Memang, rentetan peristiwa berdarah ini berawal dari serangan tanggal 28 Februari lalu. Saat itu, Ali Khamenei tewas bersama beberapa anggota keluarganya. Itu adalah hari pertama agresi militer yang digencarkan AS dan Israel. Sasaran mereka bukan cuma figur pemimpin. Infrastruktur sipil dan fasilitas energi ikut dihajar. Korban berjatuhan, ratusan nyawa melayang.
Di antara serangan paling memilukan adalah yang menimpa sebuah sekolah dasar di Minab. Lebih dari 170 orang tewas. Sebagian besar adalah anak-anak. Sebuah tragedi yang meninggalkan luka mendalam bagi bangsa.
Namun begitu, Iran tak tinggal diam. Balasan datang bertubi-tubi. Serangan rudal dan drone dilancarkan ke wilayah pendudukan Israel serta aset AS di kawasan. Gelombang serangan balasan itu konon mencapai 100 kali. Situasi mulai mereda setelah melalui mediasi Pakistan. Pada Rabu lalu, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) mengumumkan gencatan senjata dua minggu. Ini terjadi setelah AS menerima proposal 10 poin dari Tehran.
Kini, di tengah gencatan yang rentan, rakyat Iran mengenang pemimpin mereka. Menurut pernyataan IRGC, pemikiran, wacana, hingga kepemimpinan Ayatollah Khamenei di bidang perlawanan dan keadilan telah membentuk sistem komprehensif untuk memerintah negara. Warisan itulah yang kini mereka pegang, sambil menatap hari-hari yang tak pasti di depan.
Artikel Terkait
Rusia Desak Serangan Israel ke Lebanon Masuk Cakupan Gencatan Senjata AS-Iran
Polisi Tangkap Pelaku Pencurian Rumah Kosong yang Rugikan Korban Rp 100 Juta
Kebakaran SPBE di Bekasi Tewaskan 4 Jiwa dan Hanguskan 19 Bangunan
BKKBN Jatim Gelar Rakorda, Soroti Capaian Penurunan Stunting dan TFR