Serangan Israel ke Lebanon yang terjadi Rabu lalu benar-benar memicu kecaman keras dari Moskow. Rusia tak main-main, mereka mendesak agar serangan-serangan itu dimasukkan dalam cakupan gencatan senjata AS-Iran yang sedang berjalan. Menurut mereka, kesepakatan itu punya dimensi regional, yang tentunya mencakup Lebanon.
Kemarahan itu disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov. Dalam percakapan telepon dengan rekannya dari Iran, Abbas Araghchi, Lavrov menegaskan posisi negaranya.
Pemerintah Rusia dalam siaran persnya menyatakan, mereka "sangat yakin bahwa perjanjian-perjanjian ini memiliki dimensi regional dan, khususnya, berlaku untuk Lebanon."
Suara serupa datang dari juru bicara Kementerian Luar Negeri, Maria Zakharova. Dia dengan tegas mengutuk aksi Israel. Menurut Zakharova, tindakan agresif seperti ini berisiko besar menggagalkan proses negosiasi yang sudah susah payah dibangun.
Di sisi lain, sikap Israel justru berbanding terbalik. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bersikukuh dengan jalurnya. Sehari setelah serangan besar-besaran itu, dia menegaskan bahwa Israel akan terus menyerang Hizbullah "di mana pun diperlukan."
"Kami terus menyerang Hizbullah dengan kekuatan, ketepatan, dan kegigihan," tulis Netanyahu di platform media sosialnya.
"Pesan kami jelas: siapa pun yang bertindak melawan warga sipil Israel -- kami akan menyerang mereka. Kami akan terus menyerang Hizbullah di mana pun diperlukan, sampai kami sepenuhnya memulihkan keamanan bagi penduduk di utara Israel," imbuhnya.
Serangan pada hari Rabu (8/4) itu sendiri memang luar biasa skalanya. Menghantam pusat Beirut yang padat, juga wilayah selatan dan timur Lebanon. Ini disebut-sebut sebagai serangan terbesar sejak Hizbullah terlibat dalam konflik yang meluas awal Maret lalu.
Militer Israel (IDF) menggambarkannya sebagai gelombang serangan udara terbesar ke negara tetangga itu. Klaim mereka, lebih dari 100 target komando dan militer Hizbullah dilibas hanya dalam sepuluh menit. Dampaknya sungguh tragis.
Korban jiwa berjatuhan. Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Lebanon menyebutkan, sedikitnya 182 orang tewas dan hampir 900 lainnya luka-luka hanya dalam sehari itu. Angka yang memilukan.
Namun begitu, ini bukanlah awal. Jumlah tersebut menambah panjang daftar korban yang telah berjatuhan selama enam pekan terakhir. Sebelumnya, tercatat sekitar 1.700 orang, termasuk 130 anak-anak, telah kehilangan nyawa di Lebanon akibat konflik ini. Situasinya makin suram, dan jalan menuju perdamaian terasa semakin jauh.
Artikel Terkait
Wakil Ketua Komisi XIII DPR: Bantuan Hewan Kurban Presiden Pakai APBN Sudah Lazim Sejak Era Sebelumnya
Polisi Temukan Indikasi Intimidasi Korban dalam Kasus Dugaan Pencabulan Pimpinan Ponpes di Pekalongan
Pria 23 Tahun di Medan Ditangkap Usai Sayat dan Tusuk Pekerja yang Sedang Menjemur Ikan
Agung Laksono Restui La Ode Safiul Akbar Maju Calon Ketum Kosgoro 1957, Target Dongkrak Suara Golkar di Pemilu 2029