Di Balik Gelap, Syifa dan Suami Nyalakan Pelita Quran Braille di Cibinong

- Senin, 05 Januari 2026 | 19:30 WIB
Di Balik Gelap, Syifa dan Suami Nyalakan Pelita Quran Braille di Cibinong

Baru saja, tepatnya 4 Januari lalu, kita kembali memperingati Hari Braille Sedunia. Tanggal itu dipilih PBB untuk mengenang Louis Braille sekaligus mengingatkan kita semua bahwa akses terhadap tulisan braille adalah bagian dari hak asasi manusia, khususnya bagi mereka yang tunanetra. Ini soal komunikasi, dan itu hak dasar.

Di Indonesia, upaya memenuhi hak penyandang disabilitas terus dilakukan. Kita bisa lihat contoh sederhananya di trotoar, dengan adanya guiding block. Atau, pendirian Sekolah Luar Biasa (SLB) di berbagai daerah. Tapi, tentu saja, itu belum cukup. Data Kemensos 2023 menunjukkan angka 11,3 juta penyandang disabilitas di negeri ini. Di balik angka itu, ada banyak cerita. Salah satunya datang dari Cibinong, tentang sepasang suami-istri yang dengan tekun mengajarkan Al-Quran braille. Gimana sih kisah mereka? Dan seperti apa sebenarnya kondisi para penyandang disabilitas, khususnya tunanetra, hari ini?

Kisah Syifa, Perintis Rumah Quran Khusus Tunanetra di Indonesia

Semua berawal normal bagi Syifa Amalia, perempuan kelahiran 1994 ini. Tapi di usia empat tahun, diagnosa radang selaput otak menghampirinya. Penglihatannya pun merosot drastis. Lalu, di umur delapan tahun, dunia gelap total menyapanya.

Menariknya, Syifa memilih bersekolah di SMA Negeri 1 Depok, sebuah sekolah umum yang belum pernah menerima siswa tunanetra. Pihak sekolah sempat ragu. Syifa bahkan harus menandatangani semacam perjanjian: punya waktu tiga bulan untuk membuktikan dirinya bisa mengikuti pelajaran, atau hengkang.

"Alhamdulillah, teman-teman saya saat itu sangat suportif," kenang Syifa saat kami berbincang, Senin (5/1).

Dia bertahan. Dengan laptop dan ponsel yang dilengkapi aplikasi pembaca layar, plus alat rekam, dia jalani hari-hari sekolah. Untuk ujian, awalnya dia dibantu pendamping. Tapi di tahun berikutnya, dia bernegosiasi. Hasilnya, Syifa boleh ujian sendiri di ruangan terpisah, menggunakan laptop dengan soal soft copy.

UNBK jadi tantangan lain karena soalnya tak bisa dibaca aplikasi. Lagi-lagi, solusi ditemukan: ujian di ruang khusus dengan bantuan pembina. Bahkan study tour ke Yogyakarta dan Malang selama sepuluh hari pun bisa dia ikuti, berkat teman-teman dan guru yang membantu.

"Pernah waktu ke Borobudur, saya kan biasa pakai tongkat. Teman-teman malah nyuruh saya nggak usah pakai, biar mereka yang mengarahkan," ujarnya sambil tertawa.

Lulus SMA pada 2017, Syifa kemudian mencoba mukim di sebuah rumah quran di Ciputat. Tapi bentrok jadwal terapi memaksanya memilih program pulang-pergi. Kini, dia tinggal di Cibinong bersama suaminya, Muhammad Irfan Priyadi. Mereka berdua tunanetra, dan bersama-sama merintis Rumah Quran Multazam di Masjid Al-Ihsan.

Tempat ini khusus untuk belajar mengaji dengan Al-Quran braille. Santrinya sekitar 35 orang, dengan latar belakang beragam: dari tukang pijat, penjual kerupuk keliling, sampai pengamen. Yang menarik, rumah quran ini gratis. Malah, pengurus sesekali memberi apresiasi dan uang transport bagi santri yang rumahnya jauh.

"Alhamdulillah, Quran braille kita selalu dapat dari wakaf. Kalau beli, harganya cukup mahal," kata Syifa.

Dia mengaku tak ingin membesar-besarkan tempatnya. Yang dia inginkan cuma membangun komunitas yang ikhlas, fokus pada kualitas mengajar, bukan mengejar kuantitas murid atau donasi.

Hidup sebagai tunanetra di Indonesia punya tantangannya sendiri. Kadang, Syifa merasa perlu mengedukasi orang sekitar tentang cara berinteraksi yang tepat. "Kita sama seperti masyarakat umum, tapi ya jangan lupa juga dengan keterbatasan yang ada," ujarnya.


Halaman:

Komentar