Namun begitu, efisiensi tak cuma soal tempat. Biaya transportasi juga jadi perhatian serius. Presiden lalu memanggil Dirut Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, ke depan. Intinya, ia mendesak realisasi instruksi yang sudah diberikan dua bulan silam: membentuk perusahaan patungan dengan Saudia Airlines.
"Jadi, selama ini, pesawat Garuda berangkat bawa (jamaah) haji ke tanah suci, pulangnya kosong. Ini tidak ekonomis, tidak masuk akal," papar Prabowo dengan nada tegas.
Logikanya sederhana. Dengan kerja sama 50-50 itu, pesawat Garuda yang pulang dari Arab Saudi tak lagi kosong, melainkan membawa penumpang. Begitu pula sebaliknya untuk pesawat Saudi. "Arab Saudi juga demikian. Dia mengembalikan (jamaah) haji kita ke Indonesia, kembalinya kosong. Saya mengatakan, kenapa tak kerja sama?"
Presiden pun mengingatkan Glenny. "Sudah dikerjakan belum? Saya sudah perintahkan kurang lebih dua bulan yang lalu."
Permintaannya jelas. "Ya, ini harus kerja cepat, nanti Dirut Garuda menghadap saya," tutupnya. Rupanya, untuk urusan haji ini, Prabowo ingin segala proses berjalan lebih cepat dan cerdas.
Artikel Terkait
Manado Kerahkan 1.216 Personel Amankan Perayaan Paskah Nasional 2026
Layanan SIM Keliling Kembali Beroperasi di Jakarta, Cek Jadwal dan Syaratnya
PM Spanyol Kecam Netanyahu, Tuduh Rendahkan Nyawa dan Hukum Internasional
Anggota PAN Sambut Gencatan Senjata AS-Iran, Harga Minyak Dunia Turun