PM Spanyol Kecam Netanyahu, Tuduh Rendahkan Nyawa dan Hukum Internasional

- Kamis, 09 April 2026 | 06:45 WIB
PM Spanyol Kecam Netanyahu, Tuduh Rendahkan Nyawa dan Hukum Internasional

Madrid bergolak. Di tengah hiruk-pikuk berita dari Timur Tengah, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez melontarkan kecaman keras yang langsung menyita perhatian. Sasaran kemarahannya? Benjamin Netanyahu, sang PM Israel. Sanchez secara terbuka menuduh Netanyahu telah merendahkan nyawa manusia dan menginjak-injak hukum internasional.

Latar belakangnya adalah gelombang serangan terbaru di Lebanon. Situasinya sudah sangat memilukan. Lebih dari 200 orang dilaporkan tewas, sementara korban luka-luka mencapai angka seribu lebih. Sebuah tragedi kemanusiaan yang, bagi Sanchez, tak bisa lagi dibiarkan.

“Baru hari ini, Netanyahu melancarkan serangan terkerasnya terhadap Lebanon sejak serangan dimulai,” tulis Sanchez di platform X, Kamis lalu.

Dia tak berhenti di situ. Kata-katanya makin tegas dan penuh amarah.

“Penghinaannya terhadap kehidupan dan hukum internasional tidak dapat ditoleransi,” ungkapnya.

Sanchez kemudian menyerukan langkah konkret. “Sudah saatnya untuk berbicara terus terang: Lebanon harus dimasukkan dalam gencatan senjata,” tegasnya. Dia mendesak masyarakat internasional untuk bergerak.

“Masyarakat internasional harus mengutuk pelanggaran hukum internasional yang baru ini. Uni Eropa harus menangguhkan Perjanjian Asosiasi dengan Israel. Dan tidak boleh ada impunitas untuk tindakan kriminal ini,” tambah Sanchez.

Perjanjian yang dia maksud, ditandatangani Juni 2000, selama ini menjadi fondasi hubungan dagang dan politik antara Blok Eropa dan Israel. Menangguhkannya bukanlah langkah kecil, melainkan sinyal politik yang sangat kuat.

Dukungan dari Paris

Di sisi lain, dari Paris, suara lain bergema. Presiden Prancis Emmanuel Macron ternyata punya pandangan yang sejalan. Dia menyebut gencatan senjata sebagai pilihan terbaik yang ada saat ini. Dan memasukkan Lebanon ke dalamnya, bagi Macron, adalah jalan paling masuk akal menuju perdamaian yang sebenarnya.

Macron berharap gencatan akan "sepenuhnya dihormati" oleh semua pihak, "di semua area konfrontasi, termasuk di Lebanon".

“Ini adalah syarat yang diperlukan agar gencatan senjata dapat dipercaya dan langgeng,” katanya.

Tapi Macron juga melihat gambaran yang lebih luas. Baginya, setiap kesepakatan damai juga wajib membahas isu-isu pelik lain. Mulai dari kekhawatiran dunia terhadap program nuklir dan rudal Iran, kebijakan regional Teheran, hingga tindakan yang mengganggu lalu lintas kapal di Selat Hormuz yang vital itu.

“Beginilah cara perdamaian yang kuat dan langgeng dapat dibangun,” paparnya.

Posisi Macron sendiri cukup konsisten. Dia sejak lama menentang aksi militer langsung terhadap Iran. Bahkan, usulan untuk membentuk operasi militer gabungan demi membuka Selat Hormuz pernah dia sebut sebagai sesuatu yang "tidak realistis". Sekarang, dengan dukungannya untuk memasukkan Lebanon dalam gencatan, tekanan terhadap Israel untuk menghentikan eskalasi semakin bertambah.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar