Namun begitu, ceritanya tidak sepenuhnya mulus. Arsal dengan jujur mengakui bahwa lonjakan harga energi global ini ibarat pedang bermata dua.
Di satu sisi mendongkrak pendapatan, di sisi lain membebani biaya. Kenaikan harga minyak otomatis mendorong naiknya biaya bahan bakar, komponen utama dalam operasional tambang. Belum lagi, implementasi program biodiesel B40 yang akan ditingkatkan ke B50 diperkirakan bakal menambah beban sekitar US$2 per ton.
Dengan sederet tekanan itu, ruang untuk memperlebar margin jadi terbatas. Artinya, nasib emiten batu bara tak lagi hanya bergantung pada harga jual yang tinggi, tapi lebih pada kemampuan mereka mengendalikan pengeluaran.
tegas Arsal.
Maka, strategi PTBA di tahun 2026 akan berfokus pada hal-hal yang lebih teknis dan kurang seksi: efisiensi ketat, disiplin mengelola biaya, dan penambangan yang lebih selektif. Itulah resep mereka untuk tetap bertahan dan bersaing di tengah euforia harga yang diselingi ketidakpastian.
Artikel Terkait
Bulog Pastikan Stok Beras Nasional Aman untuk 11 Bulan ke Depan Hadapi El Nino
Rusia Desak Serangan Israel ke Lebanon Masuk Cakupan Gencatan Senjata AS-Iran
Polisi Tangkap Pelaku Pencurian Rumah Kosong yang Rugikan Korban Rp 100 Juta
Kebakaran SPBE di Bekasi Tewaskan 4 Jiwa dan Hanguskan 19 Bangunan