Yang membuat hati mereka tak tenang adalah ketidakpastian. Tanah di kampung mereka masih terus bergerak, bahkan makin parah. Jalan depan rumah Suprihati ambles hampir dua meter. Mustahil untuk kembali.
“Tanah geraknya masih terjadi terus. Sekarang malah tambah amblas,”
ungkapnya prihatin.
Ada kabar bahwa pada 16 April nanti mereka harus pindah dari lokasi pengungsian ini. Pemerintah berjanji akan mencarikan tempat tinggal. Tapi bagi Suprihati dan warga lainnya, janji itu masih terasa sangat abstrak.
“Pemerintah janjinya mau dicarikan tempat tinggal. Tapi enggak tahu sih, nanti tunggu tanggal 16 jadinya bagaimana,”
ucapnya dengan nada pasrah yang bercampur harap.
Hari demi hari mereka lalui dalam tenda yang lembap. Menunggu. Berharap. Sambil terus bertanya dalam hati: kapan kehidupan normal mereka benar-benar bisa dimulai lagi?
Artikel Terkait
Jadwal Salat di Jakarta Hari Ini, Imsak Pukul 04.27 WIB
Gibran Soroti Pentingnya Modernisasi Alat untuk Dukung Petani Muda di Kupang
Anjloknya KA Bangunkarta di Brebes Kacaukan Lalu Lintas, 27 Perjalanan KA Dibatalkan dan Terhenti
Hakim Pertimbangkan Permohonan Tahanan Rumah untuk Nadiem Makarim