Sudah satu setengah bulan berlalu. Tapi, bagi puluhan warga Kampung Sekip di Semarang, waktu seolah berjalan di tempat. Mereka masih bertahan di tenda-tenda pengungsian, menunggu kepastian yang tak kunjung datang. Janji relokasi dari pemerintah? Hanya jadi tanda tanya besar yang menggantung.
Sore Kamis (2/4/2026) itu, di balik terik yang mulai mereda, Suprihati (51) terlihat sibuk di dapur umum. Lokasinya tak jauh dari rumah mereka yang rusak, cuma seratus meteran. Tapi, jarak itu terasa seperti jurang pemisah antara kehidupan lama dan masa depan yang samar.
“Kami masak bersama-sama, dibagi dua tim: tim pagi dan tim sore,”
katanya sambil menyiapkan makan malam untuk semua penghuni tenda. Suaranya lirih, tapi tetap terdengar upaya untuk tetap tegar.
Lima tenda berjejer di sebuah lahan kosong yang dikelilingi pepohonan. Satu tenda bisa dihuni sepuluh orang, menampung dua sampai tiga keluarga sekaligus. Kondisinya jauh dari nyaman, apalagi di musim hujan seperti sekarang.
Air hujan mudah saja merembes masuk, terutama lewat jendela tenda. Tapi apa daya? Ini satu-satunya tempat berteduh yang mereka punya. “Sebenarnya tinggal di sini serba sulit semua. Tapi kami mau bagaimana lagi, pokoknya dibikin happy saja,” ujar Suprihati mencoba tersenyum.
Di sisi lain, fasilitas dasar sebenarnya tersedia. Ada bangunan semipermanen untuk kamar mandi, toren air bersih yang cukup besar, dan listrik sudah dialirkan. Bantuan sembako juga rutin datang. Masalahnya bukan di situ.
Artikel Terkait
Pelaku Pemalakan di Purwakarta Tewaskan Pemilik Hajatan, Ditangkap Usai Buron ke Subang
Supplier MBG Kendal Demo, Tagihan Rp141 Juta Tak Dibayar Koperasi
Wamenristek Sebut Harga Listrik Panas Bumi Masih Lebih Mahal dari Batu Bara
LBH Cianjur Serahkan Data Tambahan ke KPK untuk Laporan Jual-Beli Jabatan