Argumennya sederhana. Menurut dia, indikator bulanan jauh lebih mencerminkan kondisi riil di lapangan jika dibandingkan dengan inflasi tahunan. Yang terakhir ini memang lebih sering dijadikan acuan makro, namun kurang responsif untuk langkah kebijakan yang cepat.
Secara nasional, trennya juga menggembirakan. Inflasi tahunan berhasil ditekan dari 4,76 persen menjadi 3,48 persen. Sementara dari sisi bulanan, terjadi pelandaian dari 0,68 persen ke level 0,41 persen.
Beberapa faktor disebutkan mendorong perbaikan ini. Normalisasi tarif listrik jadi salah satunya. Di sisi lain, mobilitas masyarakat yang meningkat selama libur panjang dan momen hari raya turut mempengaruhi, terutama pada kelompok harga makanan, minuman, dan transportasi.
Lalu, bagaimana dengan tiga daerah terdampak bencana tadi? Perkembangannya cukup menarik. Sumatra Barat dan Aceh masing-masing mencatat inflasi bulanan yang sangat rendah, di angka 0,04 persen. Bahkan, Sumatra Utara justru mengalami deflasi sebesar 0,13 persen. Sebuah sinyal yang, meski kecil, patut disyukuri di tengah proses pemulihan pasca-bencana.
Artikel Terkait
Guru Silat di Serang Diamankan Warga Diduga Lecehkan Murid di Bawah Umur
Buronan Bandar Narkoba The Doctor Ditangkap di Penang Setelah Bersembunyi Sejak 2024
Komisi Yudisial Dorong Sanksi terhadap Hakim Bersifat Final dan Mengikat
Gubernur Kalsel Tegaskan Tidak Ada WFH bagi Aparatur