"UNIFIL memandang tindakan ini dengan keprihatinan mendalam dan telah mengajukan protes resmi," tegas Ardiel.
Ia menekankan, semua pihak punya kewajiban untuk melindungi personel PBB dan menghormati fasilitas mereka. Insiden penghancuran kamera ini terjadi tak lama setelah laporan ledakan di daerah yang sama yang melukai personel penjaga perdamaian.
Semua ini terjadi dalam atmosfer yang sudah sangat tegang. Sejak akhir Februari lalu, ketika AS dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran, kawasan ini seperti berada di ujung tanduk. Ketegangan terasa di mana-mana.
Presiden Trump sendiri sebelumnya sudah mengeluarkan ancaman. Ia menyatakan siap meningkatkan serangan terhadap infrastruktur Iran jika tidak ada kesepakatan yang tercapai dalam waktu dekat. Ancaman itu menggantung, menambah suasana mencekam.
Di sisi lain, peringatan juga datang dari berbagai badan internasional. Mereka memperingatkan risiko yang sangat besar jika serangan-serangan itu sampai menyasar fasilitas sensitif. Bayangkan jika instalasi energi atau nuklir kena. Imbasnya bisa jauh lebih mengerikan daripada yang kita bayangkan.
Artikel Terkait
Petugas PPSU di Kalisari Diberi SP1 Gara-gara Pakai Foto AI untuk Laporan Parkir
Pemerintah Buka Opsi Impor Minyak Mentah dari Rusia demi Jamin Pasokan BBM
Jerman Wajibkan Izin Militer bagi Pria yang Ingin Tinggal di Luar Negeri Lebih dari Tiga Bulan
Polisi Ungkap Motif Iseng dan Pengaruh Narkoba di Balik Pelecehan Seksual Sopir Taksi Online