Di sisi lain, Bambang mengingatkan semua pihak untuk waspada. Situasi tahun ini butuh perhatian ekstra serius. Istilah ‘Super El Nino’ yang ramai dibicarakan bukanlah ancaman biasa.
Fenomena ini merujuk pada pemanasan suhu laut Pasifik yang bisa mencapai 2,7°C di atas rata-rata. Akibatnya? Cuaca ekstrem yang memicu kekeringan parah.
“Dengan kondisi 2,7°C ini, ini persis kejadiannya seperti kejadian kebakaran 1997-1998,” kenang Bambang. Saat itu, lahan terbakar mencapai 10-11 juta hektare dan merenggut sekitar 500 jiwa. Sebuah sejarah kelam yang berpotensi terulang.
Kolaborasi Jadi Kunci
Menyikapi ancaman itu, Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan menekankan pentingnya kerja sama. Deteksi dini titik api, menurutnya, harus jadi prioritas bersama.
“Ini tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri, tetapi harus kolaboratif melibatkan semua pihak,” ujar Herry.
Strateginya jelas: menemukan dan memutus titik api sedini mungkin sebelum api membesar. Semua upaya pencegahan dan persiapan harus diintensifkan sekarang, sebelum puncak musim kemarau tiba.
“Lebih baik bekerja keras sekarang sebelum memasuki puncak kemarau,” tegas Kapolda, “daripada nanti memadamkan dalam kondisi yang jauh lebih besar dan sulit.”
Nada pesimis? Tidak juga. Justru ada upaya nyata yang sedang dijalankan. Tinggal konsistensi dan kolaborasi semua pihak yang akan menentukan hasilnya nanti.
Artikel Terkait
Empat Pekerja Tewas Terjatuh ke Tangki Air di Proyek Jagakarsa
Jenazah Tiga Prajurit Garuda Gugur di Lebanon Tiba Besok
Riset: Operasi Ketupat 2026 Berjalan Baik, Angka Kecelakaan Turun 30 Persen
Jenazah Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon Tiba di Tanah Air Akhir Pekan Ini