Sebelum perang berkecamuk, Selat Hormuz adalah urat nadi perdagangan energi global. Bayangkan, hampir 20 juta barel minyak mengalir melintasinya setiap hari. Jalur sempit itu vital bagi pasokan dunia.
Tapi sejak awal Maret, situasinya berubah drastis. Aktivitas pelayaran di sana dibatasi secara efektif. Imbasnya langsung terasa: biaya pengiriman melonjak, dan harga minyak global ikut terdorong naik. Gangguan ini memicu kekhawatiran di pasar internasional, menambah daftar masalah dari konflik yang berkepanjangan.
Jadi, meski tidak ada penutupan total, suasana di Selat Hormuz tetap mencekam. Kebijakan "hanya untuk kawan, tertutup untuk lawan" dari Iran ini membuat navigasi di perairan itu jadi rumit dan penuh perhitungan.
Artikel Terkait
Vaksin HPV untuk Anak Laki-laki: Manfaat Terbatas, WHO Tetap Prioritaskan Anak Perempuan
Pemprov DKI Tegaskan Mobil Dinas Pelat B untuk Mudik Bukan Asetnya
Kebijakan Tahanan Rumah Yaqut Dicabut KPK dalam Empat Hari
Wali Kota Bogor Imbau Warga Tak Berbelanja di PKL Eks Pasar Bogor Sementara Waktu