Kematian Ayatollah Ali Khamenei dalam sebuah serangan sempat menimbulkan tanda tanya besar. Namun, transisi kekuasaan berjalan cepat dan mulus. Putranya, Sayyid Mojtaba Khamenei, langsung diangkat sebagai penerus.
Langkah ini jelas bukan sekadar pergantian biasa. Ini adalah sinyal konsolidasi kekuatan yang solid, dengan dukungan penuh dari Garda Revolusi (IRGC). Mojtaba diperkirakan akan mengambil pendekatan yang lebih agresif. Doktrin perang proksinya lewat Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan kelompok sekutu lainnya bisa diperhebat untuk menciptakan "lingkaran api" yang benar-benar mengepung Israel.
Faktor lain yang membuat Iran percaya diri adalah ketahanan ekonominya. Di bawah tekanan sanksi yang menyiksa, perekonomian mereka masih tumbuh sekitar 5%. Sektor minyak dan gas tetap menjadi tulang punggung, menyokong logistik untuk perang yang mungkin berlarut-larut.
Kini, dilema besar menghadang aliansi AS-Israel. Jika tekanan terus dipaksakan, justru bisa melahirkan monster yang lebih berbahaya. Iran yang terpojok dan terluka akan menjadi entitas yang jauh lebih sulit ditebak, dan tentu saja, lebih mematikan. Situasinya semakin rumit, dan jalan keluar yang aman semakin sulit dicari.
Artikel Terkait
Mobil Terbalik di Depan LP Cipinang, Tidak Ada Korban Jiwa
Polisi Ungkap Motif Cemburu dan Harta di Balik Mutilasi Perempuan Samarinda
Israel Lancarkan Serangan Besar-besaran ke Lebanon Selatan, Presiden Aoun Peringatkan Ancaman Invasi
Buka Tutup Akses MBZ Diterapkan Lagi Atasi Kemacetan Mudik