Gelombang serangan baru dilancarkan militer Israel ke wilayah selatan Lebanon, Minggu (22/3) waktu setempat. Targetnya adalah sejumlah infrastruktur yang diklaim milik Hizbullah. Aksi ini terjadi tak lama setelah komando militer Israel memerintahkan penghancuran jembatan-jembatan di seberang Sungai Litani yang diduga dipakai oleh kelompok bersenjata itu.
Lewat sebuah pernyataan yang dikutip AFP pada Senin (23/3/2026), militer Israel dengan tegas menyatakan posisinya.
“IDF telah memulai gelombang serangan besar-besaran terhadap infrastruktur organisasi teroris Hizbullah di Lebanon selatan.”
Di sisi lain, respons keras datang dari pihak Lebanon. Presiden Joseph Aoun secara terbuka mengecam aksi Israel tersebut. Dalam pernyataan resmi kepresidenan, ia menyoroti penghancuran jembatan Qasmiyeh dan sejumlah infrastruktur vital lain di selatan negara itu.
Bagi Aoun, serangan ini bukan sekadar eskalasi biasa.
“Serangan-serangan ini merupakan eskalasi berbahaya dan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Lebanon, dan dianggap sebagai pendahuluan invasi darat,” ujarnya.
Pernyataannya itu keluar hanya beberapa jam setelah Menteri Pertahanan Israel menyebut bahwa tentaranya telah diperintahkan untuk menghancurkan lebih banyak jembatan lagi. Situasi di perbatasan utara Israel dan selatan Lebanon kembali memanas, dengan kedua pihak saling bersikukuh pada posisi masing-masing. Ketegangan terasa makin mengeras, meninggalkan suasana yang tidak menentu untuk hari-hari ke depan.
Artikel Terkait
Gubernur Sultra Gelar Open House Lebaran, Biaya Ditanggung Pribadi
Dua Prajurit Marinir Tewas, Senjata Hilang dalam Baku Tembak dengan KKB di Maybrat
Mobil Terbalik di Depan LP Cipinang, Tidak Ada Korban Jiwa
Polisi Ungkap Motif Cemburu dan Harta di Balik Mutilasi Perempuan Samarinda