PT Singaraja Butuh Rp2,73 Triliun untuk Genjot Produksi Batu Bara

- Sabtu, 31 Januari 2026 | 17:40 WIB
PT Singaraja Butuh Rp2,73 Triliun untuk Genjot Produksi Batu Bara

Perusahaan tambang batu bara, PT Singaraja Putra Tbk (SINI), punya rencana besar untuk anak usahanya. Mereka memproyeksikan kebutuhan modal kerja untuk PT Dwi Daya Swakarya bakal membengkak hingga Rp2,73 triliun pada tahun 2026 nanti. Angka yang tidak main-main.

Kenapa bisa sebesar itu? Rupanya, ini sejalan dengan rencana produksi dan aktivitas operasional yang terus digenjot. Jadi, wajar saja kalau butuh suntikan dana segar.

Nah, untuk tahun ini saja, belanja modal atau capex sudah dipatok sekitar Rp510 miliar. Anggaran sebesar itu rencananya akan difokuskan buat mendukung kegiatan operasional di lapangan. Mulai dari pemeliharaan rutin, pengembangan infrastruktur tambang, sampai fasilitas pendukung lainnya.

Soal dananya dari mana, perusahaan mengaku sebagian besar akan dibiayai oleh pihak ketiga yang diajak kerja sama. Sementara untuk memenuhi kebutuhan modal kerja dan capex, direncanakan bakal mengandalkan hasil operasional anak usahanya sendiri. Jadi, berharap bisnis berjalan lancar agar bisa mendanai dirinya sendiri.

Di sisi lain, ada kabar baik dari kinerja perseroan. Sepanjang 2025, bisnis mereka menunjukkan tren perbaikan. Dua anak usaha di sektor tambang, yaitu PT Pasir Bara Prima dan PT Persada Kapuas Prima, sudah mulai berproduksi dan akhirnya mencetak pendapatan.

Hingga akhir Desember tahun lalu, kontribusi pendapatan dari penjualan batu bara diperkirakan menyentuh angka Rp154 miliar. Lumayan untuk awal yang menjanjikan.

Memasuki 2026, targetnya tentu lebih tinggi. SINI ingin melihat peningkatan signifikan pada kinerja pendapatan. Caranya? Selain melanjutkan operasional dua anak usaha yang sudah jalan, mereka berharap PT Pesona Bara Cakrawala bisa segera ikut beroperasi. Kehadirannya diharapkan memberi tambahan kontribusi yang berarti.

Dengan segala pengembangan yang dilakukan, ditambah kesiapan operasional dan proyeksi pasar batu bara yang dianggap akan lebih stabil, perusahaan optimis. Kontribusi pendapatan dari penjualan batu bara pada 2026 diprediksi bakal melonjak drastis mencapai Rp2,98 triliun. Sebuah lompatan yang sangat besar jika dibandingkan realisasi tahun sebelumnya.

Semua rencana ini kini tinggal menunggu eksekusi di lapangan. Tantangannya tentu tidak kecil, tapi peluangnya terlihat jelas di depan mata.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar