Kecelakaan maut bus PO Cahaya Trans di Semarang dini hari tadi, Senin (22/12), menyisakan duka dan pertanyaan. Menurut Jusri Pulubuhu, instruktur keselamatan sekaligus pendiri Jakarta Defensive Driving Consultant (JDDC), akar masalahnya terletak pada kegagalan pengemudi mengontrol kecepatan. Ia menyebutnya speed adaptation failure.
“Speed adaptation failure biasa terjadi bagi para pengemudi-pengemudi yang sudah berjam-jam di tol,” jelas Jusri.
“Ketika mereka exit tol, mereka gagal beradaptasi dengan kecepatan yang seharusnya.”
Nah, kegagalan itu rupanya jadi faktor kunci. Apalagi bus punya bobot berat dan titik gravitasi yang tinggi. Kombinasi itu membuat kendaraan mudah sekali oleng, apalagi di tikungan. Jusri menduga pengemudi salah mengantisipasi. Lokasinya kan di simpang susun exit tol, dengan tikungan melingkar yang tajam dan jalan cuma dua lajur. Situasi yang butuh kewaspadaan ekstra.
“Perlambatan yang dilakukan tidak sesuai kondisi,” tegasnya.
“Seharusnya driver tidak melakukan perlambatan saat menikung, melainkan saat di lurusan ketika exit tol.”
Intinya, sinyal di otak pengemudi telat merespons. Mereka merasa kecepatannya sudah aman, padahal kenyataannya tidak. Menurut Jusri, kecelakaan di gerbang atau exit tol sering disebabkan oleh hal ini.
Yang perlu diingat, potensi gagal adaptasi kecepatan ini nggak cuma mengintai pengemudi bus. Siapa pun yang lama berkendara di jalan tol bisa mengalaminya. Makanya, penting banget tahu kapan harus mengurangi kecepatan dalam perjalanan jauh. Fokus harus tetap terjaga. Memahami rambu-rambu, seperti batas kecepatan atau peringatan untuk pelan-pelan, juga jadi kunci keselamatan.
Kesaksian dari Dalam Bus
Kronologi kejadian diungkap Kepala Kantor SAR Semarang, Budiono. Kecelakaan terjadi sekitar pukul 00.30 WIB. Bus bernomor polisi B 7201 IV itu berangkat dari Jatiasih, Jakarta, menuju Yogyakarta.
“Bus melaju kencang dan diduga hilang kendali, sehingga menabrak pembatas jalan dan akhirnya terguling,” kata Budiono.
Pernyataan Jusri ternyata selaras dengan kesaksian korban selamat, Sutiadi (67 tahun). Ia merasakan sendiri bus itu melaju sangat kencang.
“Di Krapyak jalan turun itu tidak ada perlambatan, tidak ada pengereman, kencang,” ungkap Sutiadi.
“Perasaan saya itu tambah kencang, padahal jalan turun. Biasanya ada perlambatan, ini nggak ada. Pas tikungan itu oleng lalu guling.”
Dari insiden tragis ini, Sutiadi termasuk satu dari 17 penumpang yang selamat. Sayangnya, 16 orang lainnya meninggal dunia.
Artikel Terkait
Prabowo dan Albanese Perkuat Kemitraan Pendidikan dan Ekonomi di Jakarta
DJP dan Bareskrim Perbarui Kerja Sama, Bekukan Aset Rp2,65 Triliun dari Pelanggar Pajak
Gempa Megathrust M 6,2 Guncang Pacitan, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
KPK Sita Rp40,5 Miliar dan 5,3 Kg Emas dalam Kasus Suap Impor Bea Cukai