Dampaknya langsung terasa. Menurut Hanif, banyak biota air yang mati karena terpapar racun. Ikan-ikan menghilang, ekosistem sungai pun terancam.
Namun begitu, ada secercah harapan dari inisiatif masyarakat. Hanif menilai langkah Gemabudhi memproduksi dan menebar ekoenzim ini sangat positif. Ini bukan sekadar aksi lingkungan biasa, tapi punya dimensi lain yang lebih dalam.
"Ini adalah praktik nyata dari ekoteologi, seperti yang selalu diarahkan oleh Menteri Agama," ujarnya.
Ia melanjutkan, "Ajaran Buddha sendiri sangat menekankan harmoni dengan alam. Manusia hidup dan bergantung pada lingkungannya, jadi sudah seharusnya kita menjaganya."
Jadi, aksi di Jeletreng itu lebih dari sekadar penebaran cairan. Ia adalah sebuah simbol kolaborasi antara semangat keagamaan, kepedulian masyarakat, dan komitmen pemerintah untuk memperbaiki yang rusak. Langkah pertama sudah diambil. Kini, tinggal menunggu waktu menunjukkan hasilnya.
Artikel Terkait
Menko Pangan Pastikan Stok Aman dan Harga Terkendali Jelang Lebaran
Kapolda Riau Peringatkan Dampak Konflik Global pada Mudik Lebaran 2026
Pemerintah Terapkan WFA 5 Hari untuk ASN dan Swasta Jelang Lebaran 2026
Jalan Lintas Selatan Blitar Segera Beroperasi, Dukung Mudik dan Pemerataan