Ia menekankan pentingnya koordinasi yang kuat antara Balai TNGR, pemprov, pemkab, dan masyarakat lokal. Koordinasi ini vital, terutama untuk urusan keselamatan pendaki dan pelestarian alam. Iqbal lalu mengingatkan soal insiden kecelakaan wisatawan beberapa waktu lalu. Kejadian itu, katanya, menunjukkan betapa rumitnya penanganannya dan membutuhkan kerja sama banyak pihak, termasuk dalam operasi vertical rescue.
“Gunung Rinjani sebagai simbol kehidupan masyarakat. Kami berharap inovasi Balai TNGR dalam tata kelola lingkungan dan pariwisata segera diwujudkan,” tambahnya.
Sebelum ditutup, Rinjani sebenarnya punya catatan kinerja yang cukup mentereng. Sepanjang 2025, kawasan ini menyumbang PNBP hingga Rp25,92 miliar. Bahkan, perputaran uang yang ditimbulkannya mencapai angka fantastis: Rp182,05 miliar.
Dari sisi kunjungan, tercatat 80.214 orang mendaki tahun lalu. Jumlah ini didominasi wisatawan asing (43.236 orang), disusul wisatawan domestik (36.978 orang). Sementara untuk wisatawan yang hanya berkunjung tanpa mendaki, angkanya mencapai 52.108 orang, dengan mayoritas besar adalah pelancong dalam negeri.
Jadi, tunggu saja. Jika tidak ada aral melintang, akhir Maret tahun depan Rinjani siap kembali memberikan pengalaman tak terlupakan dengan standar keamanan dan kelestarian yang jauh lebih baik.
Artikel Terkait
Ketua Parlemen Iran: Waktu AS dan Israel Patuhi Gencatan Senjata di Lebanon Hampir Habis
Polisi Tangkap Pelaku Penculikan dan Penyekapan Anak 10 Tahun di Cirebon
Geopolitik Panas Ganggu Pasokan Minyak, Aktivis Dorong Percepatan Pengurangan Plastik Sekali Pakai
Empat Pelaku Penipuan Mengatasnamakan Pimpinan KPK Ditangkap di Jakarta