Di platform X, Kamis malam (9/4/2026), peringatan keras terlontar dari Mohammad Bagher Qalibaf. Ketua Parlemen Iran itu menyebut waktu bagi Amerika Serikat dan Israel untuk menaati gencatan senjata di Lebanon kian menipis. Bahkan, hampir habis.
“Waktu hampir habis,” tulisnya singkat namun penuh tekanan, menegaskan urgensi situasi yang memanas.
Peringatan itu bukan tanpa dasar. Qalibaf mengutip dokumen resmi Iran yang memuat proposal damai 10 poin. Dokumen tersebut dengan tegas menyatakan bahwa Lebanon dan Poros Perlawanan adalah bagian mutlak dari kesepakatan. Artinya, kata dia, gencatan senjata harus menjamin keamanan Lebanon sepenuhnya, bukan cuma dilihat sebagai kepentingan sepihak Iran.
Di sisi lain, menurut Qalibaf, dukungan untuk posisi ini datang dari tempat lain. Dalam pembicaraan di Islamabad, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif disebutkan telah menegaskan pentingnya isu Lebanon. Ini sekaligus jadi sinyal bahwa pelanggaran terhadap gencatan senjata bakal dapat respons tegas dari Iran dan sekutu-sekutunya.
Pernyataan sang ketua parlemen muncul di tengah situasi yang memang mencekam. Serangan udara Israel di Beirut dan wilayah Lebanon lainnya terus berlanjut. Bagi Teheran, aksi-aksi itu adalah pelanggaran serius terhadap kesepakatan yang dimediasi berbagai pihak, termasuk aktor regional dan internasional.
Artikel Terkait
Prabowo: Dana Rp31,3 Triliun Hasil Penyelamatan Negara Dapat Perbaiki 34 Ribu Sekolah
Empat Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia Kembali Boleh Bermain di Belanda
Timnas Futsal Indonesia Hadapi Vietnam di Semifinal AFF 2026, Ulangi Final 2024?
Satpam di Surabaya Bobol TK Tempatnya Bekerja, Curi Rp43 Juta