Ledakan kekerasan kembali terjadi di Raqa, kota di utara Suriah yang tak henti-hentinya dilanda konflik. Kali ini, empat anggota pasukan keamanan pemerintah tewas dalam sebuah serangan yang diklaim dilakukan oleh kelompok Negara Islam atau ISIS. Serangan ini terjadi di wilayah yang baru-baru ini direbut oleh pasukan Damaskus dari kendali milisi Kurdi.
Menurut keterangan Kementerian Dalam Negeri Suriah, insiden berdarah itu adalah yang kedua dalam dua hari terakhir. Serangan ini seolah menjawab seruan ISIS yang mendesak para pejuangnya untuk melawan otoritas Suriah. "Empat anggota pasukan keamanan internal tewas," begitu bunyi kutipan dari sumber keamanan yang dilaporkan oleh kantor berita resmi SANA, yang dengan tegas menyalahkan ISIS di balik aksi tersebut.
Rinciannya, serangan yang disebut sebagai aksi teroris itu menyasar sebuah pos pemeriksaan pada hari Senin lalu. Dalam baku tembak yang terjadi, satu orang penyerang dilaporkan tewas. Sehari sebelumnya, tepatnya Minggu, insiden serupa juga terjadi. Meski kementerian tak menyebut ada korban di pihak keamanan, satu pelaku lagi dilaporkan tumbang.
Latar belakang situasinya cukup kompleks. Raqa bukanlah kota sembarangan. Tempat ini pernah menjadi ibu kota de facto ISIS, pusat kekuatan mereka di masa lalu. Sekarang, meski sudah kehilangan wilayah, sisa-sisa kelompok itu masih bersembunyi di balik gurun Suriah yang luas, menunggu kesempatan untuk menyerang.
Perpindahan kekuasaan di Raqa sendiri baru terjadi bulan lalu. Pemerintah Suriah berhasil merebutnya dari tangan pasukan Kurdi yang didukung AS. Kelompok Kurdi itu sebelumnya adalah ujung tombak pertempuran melawan ISIS, sebelum kelompok militan itu akhirnya kalah secara teritorial pada 2019. Irak bahkan sudah lebih dulu mengklaim kemenangan serupa.
Di sisi lain, peta politik di Damaskus sendiri telah berubah. Sejak menggulingkan Bashar al-Assad di akhir 2024, pemerintahan baru Suriah yang punya hubungan historis dengan jaringan Al-Qaeda telah berusaha keras menghapus citra radikal mereka. Mereka berupaya tampil lebih moderat.
Upaya itu salah satunya diwujudkan dengan bergabungnya Suriah ke dalam koalisi internasional pimpinan AS untuk melawan ISIS tahun lalu. Sejak itu, ada koordinasi serangan terhadap sisa-sisa kelompok tersebut di dalam negeri. Namun, serangan di Raqa ini membuktikan bahwa ancaman itu masih nyata dan hidup.
Artikel Terkait
Menteri Keuangan Israel Ultimatum Hamas: Serahkan Senjata atau Hadapi Pendudukan Gaza
Menlu RI Tegaskan Komitmen HAM dan Soroti Isu Palestina di Dewan HAM PBB
Ramadhan di Tenda Bencana: Solidaritas yang Tetap Hidup di Tengah Runtuhnya Rumah
Iran dan Rusia Sepakati Kesepakatan Senjata Rahasia Senilai Setengah Miliar Euro