“Paling banyak bisa angkut lima-delapan kereta (sepeda motor),” katanya. “Biasanya ramai dekat-dekat Lebaran.”
Soal bayaran, Ridwan punya prinsip sendiri. Dia nggak pernah patok harga. “Kadang ada yang kasih Rp5 ribu, kadang ada yang Rp10 ribu. Tadi ada yang kasih Rp3 ribu. Saya nggak patok,” ujarnya. Bahkan untuk warga yang mengantar orang sakit, dia sama sekali tidak meminta bayaran. “Orang sakit itu saya nggak minta, sebab harus lewat terus,” tuturnya.
Cerita serupa datang dari Tokli, salah seorang pengguna jasa Ridwan. Dulu, menurutnya, ada jembatan apung yang memudahkan. Tapi sejak jembatan itu putus dan hanyut terbawa banjir, belum ada tanda-tanda akan dibangun kembali. Jadilah, rakit menjadi satu-satunya pilihan.
Meski arus sekarang lebih kencang, Tokli merasa perahu rakitan Ridwan masih cukup stabil. Tapi kerinduan akan akses yang lebih mudah tetap ada. “Tetapi kalau ada jembatan kan enak, bisa mondar-mandir,” keluhnya. “Saat ini terbatas.”
Jadi begitulah keadaannya sekarang. Warga waspada, tapi tetap harus beraktivitas. Mereka bergantung pada sebilah rakit dan kebaikan hati seorang Ridwan, sambil berharap ada solusi permanen untuk sungai yang telah berubah itu.
Artikel Terkait
Bayi Hampir Dibawa Orang Lain, RSHS Bandung Minta Maaf
Bulog Pastikan Stok Beras Nasional Aman untuk 11 Bulan ke Depan Hadapi El Nino
Rusia Desak Serangan Israel ke Lebanon Masuk Cakupan Gencatan Senjata AS-Iran
Polisi Tangkap Pelaku Pencurian Rumah Kosong yang Rugikan Korban Rp 100 Juta