Warga Aceh Timur Bergantung Rakit Usai Banjir Bandang Melebarkan Sungai Arakundo

- Minggu, 22 Februari 2026 | 02:15 WIB
Warga Aceh Timur Bergantung Rakit Usai Banjir Bandang Melebarkan Sungai Arakundo

“Paling banyak bisa angkut lima-delapan kereta (sepeda motor),” katanya. “Biasanya ramai dekat-dekat Lebaran.”

Soal bayaran, Ridwan punya prinsip sendiri. Dia nggak pernah patok harga. “Kadang ada yang kasih Rp5 ribu, kadang ada yang Rp10 ribu. Tadi ada yang kasih Rp3 ribu. Saya nggak patok,” ujarnya. Bahkan untuk warga yang mengantar orang sakit, dia sama sekali tidak meminta bayaran. “Orang sakit itu saya nggak minta, sebab harus lewat terus,” tuturnya.

Cerita serupa datang dari Tokli, salah seorang pengguna jasa Ridwan. Dulu, menurutnya, ada jembatan apung yang memudahkan. Tapi sejak jembatan itu putus dan hanyut terbawa banjir, belum ada tanda-tanda akan dibangun kembali. Jadilah, rakit menjadi satu-satunya pilihan.

Meski arus sekarang lebih kencang, Tokli merasa perahu rakitan Ridwan masih cukup stabil. Tapi kerinduan akan akses yang lebih mudah tetap ada. “Tetapi kalau ada jembatan kan enak, bisa mondar-mandir,” keluhnya. “Saat ini terbatas.”

Jadi begitulah keadaannya sekarang. Warga waspada, tapi tetap harus beraktivitas. Mereka bergantung pada sebilah rakit dan kebaikan hati seorang Ridwan, sambil berharap ada solusi permanen untuk sungai yang telah berubah itu.

Editor: Erwin Pratama


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar