“Segala puji bagi Allah yang menolongku maka aku dapat berpuasa, dan yang telah memberiku rezeki sehingga aku dapat berbuka.” (HR Ibnu Sunni)
4. Doa Bersama untuk Diterimanya Ibadah
Berbeda dengan doa-doa sebelumnya yang menggunakan kata ganti tunggal, doa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA ini menggunakan kata ganti jamak, cocok dibaca secara bersama-sama atau mewakili harapan keluarga.
“Ya Allah, karena Kamu kami berpuasa, dan dengan rizki-Mu kami berbuka, maka terimalah (puasa) kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” (HR Ibnu Sunni)
5. Doa Memohon Ampunan dengan Rahmat-Nya
Doa terakhir yang disebutkan Imam Nawawi ini bersumber dari riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Sunni. Doa ini langsung memohon ampunan dengan menyertakan sifat rahmat Allah yang Maha Luas.
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, agar Engkau mengampuniku.”
Menjaga Adab dalam Berdoa
Selain mengetahui lafaz doa, memperhatikan adab berdoa akan semakin menyempurnakan permohonan kita. Beberapa adab yang dianjurkan dalam tradisi keilmuan Islam antara lain:
Pertama, mengawali dengan memuji Allah dan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Ini adalah bentuk penghormatan sebelum menyampaikan hajat.
Kedua, berdoa dengan penuh keyakinan dan harap, tanpa rasa tergesa-gesa. Doa yang dibaca dengan khusyuk dan pemahaman akan maknanya lebih utama daripada sekadar membacanya dengan cepat.
Ketiga, menghadap kiblat dan mengangkat tangan adalah sunah yang menunjukkan kesungguhan, meski tidak diwajibkan. Yang terpenting adalah kondisi hati yang hadir dan tunduk.
Keempat, menggunakan bahasa yang baik dan tidak bertentangan dengan syariat. Doa bisa dipanjatkan dalam bahasa apa pun yang dipahami, karena Allah Maha Mengetahui isi hati.
Penutup: Esensi yang Lebih Penting
Merujuk pada kitab Al-Adzkar, Imam Nawawi tidak mempersulit umat dalam memilih doa mana yang harus dibaca. Kelima doa tersebut sama-sama memiliki landasan riwayat. Bagi yang merasa berat menghafal semuanya, cukup mengamalkan satu atau dua doa yang paling dikuasai dan dirasakan mendalam maknanya.
Esensinya, momen berbuka puasa adalah kesempatan emas untuk membangun kembali hubungan spiritual dengan Sang Pencipta. Dengan menghadirkan ketulusan hati dan mengikuti tuntunan yang ada, detik-detik berbuka tidak hanya memulihkan tenaga jasmani, tetapi juga menyegarkan rohani, mengisi Ramadhan 1447 Hijriah dengan makna dan keberkahan yang lebih luas.
Artikel Terkait
Petugas PPSU di Kalisari Diberi SP1 Gara-gara Pakai Foto AI untuk Laporan Parkir
Pemerintah Buka Opsi Impor Minyak Mentah dari Rusia demi Jamin Pasokan BBM
Jerman Wajibkan Izin Militer bagi Pria yang Ingin Tinggal di Luar Negeri Lebih dari Tiga Bulan
Polisi Ungkap Motif Iseng dan Pengaruh Narkoba di Balik Pelecehan Seksual Sopir Taksi Online