Kehadiran ISF di Gaza dirancang bukan untuk konfrontasi militer, melainkan untuk menciptakan fondasi keamanan yang stabil. Jeffers menekankan bahwa misi utama pasukan ini adalah mengawasi gencatan senjata dan menciptakan lingkungan yang aman, sehingga pemerintahan sipil dapat berfungsi dan proses rekonstruksi berjalan.
Ia menambahkan, "Dengan langkah-langkah awal ini, kita akan membantu menghadirkan keamanan yang dibutuhkan Gaza demi kemakmuran masa depan dan perdamaian yang langgeng."
Kesiapan Kontribusi Pasukan
Sebelumnya, Indonesia telah menyatakan kesiapannya untuk berkontribusi signifikan dalam misi ini, dengan potensi pengiriman hingga 8.000 personel. Komitmen ini sejalan dengan target kekuatan ISF yang direncanakan mencapai 20.000 tentara, ditambah unsur kepolisian.
Selain Indonesia, Jeffers juga mengonfirmasi sejumlah negara lain yang telah menyatakan komitmennya. Maroko disebutkan sebagai negara Arab pertama yang setuju mengirimkan pasukan, diikuti oleh Albania, Kazakhstan, dan Kosovo. Partisipasi beragam negara ini mencerminkan upaya kolektif internasional dalam menangani situasi di Gaza.
Artikel Terkait
Bulog Pastikan Stok Beras Nasional Aman untuk 11 Bulan ke Depan Hadapi El Nino
Rusia Desak Serangan Israel ke Lebanon Masuk Cakupan Gencatan Senjata AS-Iran
Polisi Tangkap Pelaku Pencurian Rumah Kosong yang Rugikan Korban Rp 100 Juta
Kebakaran SPBE di Bekasi Tewaskan 4 Jiwa dan Hanguskan 19 Bangunan