Nah, pembicaraan Selasa nanti akan dimediasi oleh Oman. Agendanya tentu berat.
Di satu sisi, AS dan sekutunya di Eropa punya kekhawatiran mendalam. Mereka yakin program nuklir Iran punya tujuan terselubung: membuat bom. Meski begitu, Teheran selalu membantah tudingan itu. Mereka bersikeras programnya hanya untuk damai.
Masalahnya, AS punya daftar panjang isu yang ingin dibahas. Tak cuma nuklir, tapi juga misil balistik Iran dan dukungannya pada berbagai kelompok bersenjata di kawasan Timur Tengah yang kerap memicu ketegangan.
Menariknya, ada sedikit sinyal dari Iran menjelang pertemuan. Lewat Kementerian Luar Negeri-nya, mereka menyebut posisi AS dalam masalah nuklir mulai "bergerak ke arah yang lebih realistis." Sebuah pernyataan yang mungkin bisa dibaca sebagai angin segar, atau sekadar diplomasi biasa.
Namun begitu, jalan menuju kesepakatan pasti tak mulus. Kita masih ingat, upaya negosiasi sebelumnya berakhir ricuh. Saat itu, Israel melancarkan serangan ke Iran yang memicu perang singkat selama hampir dua pekan. Tak lama setelahnya, AS membom situs nuklir Iran. Kenangan pahit itu pasti masih membayangi meja perundingan di Jenewa.
Artikel Terkait
Jokowi Tak Mau Berspekulasi Soal Isu Ijazah Palsu, Serahkan ke Proses Hukum
Pengemudi Ojol Tewas Tertabrak Truk Dump di Jalan Raya Sulawesi, Jakarta Utara
Studi Ungkap Konsumsi Makanan Ultra-Proses Tingkatkan Risiko Patah Tulang Panggul
Batas Akhir Puasa Syawal 2026 Diprediksi 17 atau 18 April Akibat Perbedaan Penetapan Awal Bulan