Apindo Soroti Ancaman Kelangkaan Bahan Baku Impor Akibat Konflik Timur Tengah

- Jumat, 03 April 2026 | 17:15 WIB
Apindo Soroti Ancaman Kelangkaan Bahan Baku Impor Akibat Konflik Timur Tengah

JAKARTA – Kalangan pengusaha mulai merasakan getirnya dampak konflik di Timur Tengah. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyoroti ancaman kelangkaan bahan baku impor, yang dipicu oleh ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Situasi ini tentu saja bikin was-was. Para pengusaha kini menengok ke pemerintah, menanti langkah antisipasi agar roda produksi di dalam negeri tidak macet total.

Bob Azam, Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, menyebut sektor-sektor strategis seperti makanan-minuman dan otomotif sudah merasakan imbasnya. Bahan baku plastik, misalnya, sulit didapat. Akibatnya, pasokan yang ada tak sanggup memenuhi permintaan yang terus berjalan.

"Kami berharap jangan sampai ada bottlenecking terhadap bahan baku dan lain sebagainya," ujar Bob kepada media, Jumat (3/4/2026).

"Kami mengimbau kepada pemerintah untuk diberi relaksasi untuk bahan baku terutama yang impor. Jadi saya berharap bahwa kelangkaan bahan baku plastik ini jangan sampai mengganggu produksi."

Bob juga mewanti-wanti risiko inflasi. Jika produksi terus menurun karena bahan baku langka, kenaikan harga barang dan jasa bisa jadi konsekuensi yang tak terhindarkan. Meski begitu, untuk saat ini, menaikkan harga masih dianggap sebagai opsi terakhir. "Biasanya kalau otomotif, kami justru mempertahankan (harga)," tuturnya.

Lalu, apa solusinya? Di sisi lain, para pelaku usaha tak tinggal diam. Mereka berupaya mencari celah dengan berinovasi. Diversifikasi produksi digadang-gadang sebagai salah satu cara untuk menyiasati situasi sulit ini.

"Kami sih berharap akan muncul inovasi-inovasi baru di setiap kesulitan, termasuk kesulitan bahan baku yang saat ini kami hadapi," kata Bob.

Isu ketersediaan bahan baku ini memang jadi momok serius sejak perang berkecamuk. Ambil contoh industri tekstil di hulu. Menurut Redma Gita Wirawasta, Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), stok bahan baku kritis seperti MEG yang berasal dari Timur Tengah hanya bertahan untuk beberapa pekan ke depan.

"Kalau untuk saat ini belum ada pengaruh karena stok bahan baku kita yang berasal dari Timteng yaitu MEG masih ada untuk 2-3 Minggu ke depan," ucap Redma pada 10 Maret 2026.

Namun begitu, ancaman sudah terlihat di depan mata. Ketidakpastian keamanan kawasan langsung berimbas pada dua hal: harga dan logistik. Harga komoditas bahan baku di pasar spot sudah meroket. Belum lagi biaya pengiriman yang membengkak, khususnya untuk rute ke Timur Tengah dan Eropa.

"Harga PX, PTA dan MEG di pasar spot sudah naik," jelas Redma. "Untuk ekspor saat ini terkendala biaya logistik khususnya yang ke Timteng dan Eropa yang naik sekitar 25 persen karena ditambahkan biaya resiko."

Jadi, situasinya cukup pelik. Di satu sisi, produksi harus dijaga. Di sisi lain, tekanan dari kenaikan biaya dan kelangkaan bahan baku semakin nyata. Semuanya bergantung pada seberapa cepat dan tepat respons semua pihak, baik pengusaha maupun pemerintah, dalam menghadapi gejolak ini.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar