Nah, untuk menjaga laju itu, Pramono mengaku memberi ruang seluas-luasnya bagi berbagai kegiatan. Tujuannya jelas: jadi stimulus. Ia lalu memberi contoh, seperti gelaran Christmas Collosal di jalan Sudirman-Thamrin akhir tahun lalu, atau perayaan tahun baru dan pembukaan Festival Imlek.
Yang menarik, dalam setiap event besar itu, selalu ada sentuhan budaya Betawi yang sengaja diselipkan. "Contohnya yang tadi juga disampaikan oleh Bang Foke," katanya merujuk pada mantan gubernur, Fauzi Bowo.
Jadi, ornamen Ramadan dan Idul Fitri nanti bukan sekadar hiasan. Itu adalah bagian dari strategi yang lebih besar: menghidupkan ekonomi sekaligus merawat warna lokal Jakarta. Sebuah cara untuk membuat kota ini tak hanya ramai, tetapi juga punya ruh.
Artikel Terkait
Polres Rokan Hulu Intensifkan Patroli dan Bagi Sembako untuk Cegah Karhutla
Kedubes Palestina Kecam Serangan Israel yang Tewaskan Tiga Pasukan Perdamaian Indonesia di Lebanon
KPK Periksa Lima Saksi Swasta Terkait Dugaan Penyamaran Aset Mantan Kajari
Kebakaran SPBE di Bekasi Lukai 15 Orang, Dua Korban Luka Bakar 90 Persen