“Terima kasih Bu Khofifah. Nasib kita memang harus sering ketemu,” kelakarnya di hadapan hadirin.
“Saya ikut tiga kali Pilgub, pesaingnya sama: selalu Bu Khofifah. Tapi ya kita tetap baik. Tampaknya kami memang tidak boleh pisah.”
Candanya itu jelas mengacu pada sejarah politik mereka di Jawa Timur. Keduanya sama-sama pernah kalah dalam pertarungan pilkada, dan kini sama-sama memegang jabatan Menteri Sosial meski di periode yang berbeda. Sekilas, kelakar itu terdengar ringan. Namun di baliknya, terselip kisah panjang persaingan dan kerja sama yang akhirnya berujung pada kolaborasi. Acara di Kalimantan Selatan itu pun berlanjut dengan hangat, diwarnai tawa peserta yang memahami konteks guyonan sang menteri.
Artikel Terkait
Limbah FABA Disulap Jadi Peluang, Lapas Cetak Warga Binaan Mandiri
Kades dan Tiga Terdakwa Divonis 3,5 Tahun Penjara dalam Kasus Korupsi Pager Laut
Indonesia Puncaki Peringkat Kesejahteraan Global: Modal Sosial atau Alarm bagi Kebijakan?
Chat Grup Nadiem Sebelum Jadi Menteri Jadi Sorotan di Sidang Korupsi Rp 2,1 Triliun