Lantas, apa penyebabnya? Agus menunjuk pada berkurangnya armada pengangkut sampah. Biasanya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengerahkan sekitar lima belas truk untuk mengangkut sampah dari pasar induk itu. Namun belakangan, jumlahnya menyusut drastis.
“Belakangan di bulan terakhir ini pengiriman armada itu hanya sekitar tujuh-delapan armada. Nah, oleh karenanya, terjadi deposit sampah,” jelasnya.
Singkatnya, dari lima belas truk, yang beroperasi kini cuma delapan. Kekurangan itu jelas menciptakan penumpukan yang tak terhindarkan. Sampah menggunung, bau pun menyebar ke mana-mana, dan warga yang jadi korban.
Artikel Terkait
Dentingan di Tengah Malam: Penjaga Waktu Para Pengrajin Tempe Cikoko
Gunungan Sampah di Kramat Jati Diserbu 25 Truk, Warga Lega
Warga Sarinah Sambut JPO Baru, Tuntut Fasilitas Tak Sekadar Slogan
KPK Amankan Delapan Orang dalam OTT Dugaan Suap Pengurangan Pajak