Pasien Super Flu di Yogyakarta Dinyatakan Sembuh Total

- Sabtu, 10 Januari 2026 | 13:42 WIB
Pasien Super Flu di Yogyakarta Dinyatakan Sembuh Total

Di akhir September tahun lalu, seorang warga Yogyakarta dinyatakan positif mengidap apa yang disebut "Super Flu". Kabar baiknya, menurut Dinas Kesehatan setempat, pasien tersebut kini sudah sembuh total.

Menurut sejumlah saksi, kasus ini terungkap setelah pasien berobat ke RSUP Sardjito. Pihak rumah sakit kemudian melakukan pemeriksaan laboratorium.

“Hasilnya positif H3N2-D,” jelas Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dr. Lana Unwanah, dalam jumpa pers di Balai Kota, Jumat lalu.

“Pasiennya memang berdomisili di Kota Jogja dan kondisinya saat ini sudah pulih,” lanjutnya.

Lana memaparkan, Super Flu sejatinya adalah Influenza A tipe H3N2. Gejalanya memang lebih berat dan berlangsung lebih lama ketimbang flu biasa. Tapi ada satu hal yang membedakannya dari COVID-19: virus ini hanya menyerang saluran pernapasan atas. Mulai dari hidung, tenggorokan, sampai trakea.

“Kalau COVID kemarin itu memang dia cepat sekali masuk ke dalam saluran paru-paru, kemudian masuk ke dalam kantong-kantong udara, seperti disebut alveolus. Sementara super flu ini hanya menyerang saluran pernapasan atas,” ujarnya.

Gejalanya sendiri cukup khas. Demam tinggi yang muncul tiba-tiba, badan pegal-pegal, lemas yang luar biasa, sakit kepala, plus batuk yang bisa bertahan sampai hampir dua minggu.

Namun begitu, pemerintah tak melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk setiap pasien flu. Pendekatannya lewat sistem sentinel hanya sampling di sejumlah fasilitas kesehatan primer dan rujukan tertentu. Alasannya, penyakit ini tidak menimbulkan risiko kematian cepat seperti COVID-19.

“Kalau suatu penyakit tidak menimbulkan suatu wabah, maka yang dilakukan pemerintah adalah sampling dan kita sebutnya sentinel,” kata Lana.

Meski begitu, kewaspadaan tetap diperlukan. Kelompok rentan seperti anak kecil, orang lanjut usia, ibu hamil, dan mereka yang punya penyakit bawaan, risikonya lebih tinggi. Pencegahan dasar pun jadi kunci.

“Orang-orang dengan komorbid, termasuk lansia, anak, dan lain sebagainya, sebaiknya bisa dilakukan pengondisian yang relatif lebih baik dibandingkan orang dewasa,” pesannya.

Artinya, jaga kebersihan, istirahat yang cukup, dan pastikan asupan gizi seimbang. Terutama bagi mereka yang punya riwayat penyakit penyerta, pengelolaan kesehatannya harus lebih ketat lagi.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar