Sejak tayang perdana di Netflix akhir Desember lalu, spesial komedi tunggal Pandji Pragiwaksono, “Mens Rea”, langsung jadi perbincangan hangat. Durasi pertunjukannya yang hampir dua setengah jam itu ternyata penuh dengan kritik politik yang dibungkus dengan guyonan-guyonan cerdas. Bukan cuma lucu, tapi juga bikin mikir.
Pandji memang punya cara sendiri. Di panggung itu, ia mengubah materi komedi menjadi semacam kuliah politik yang asyik. Sasaran utamanya jelas: anak muda. Ia ingin mereka paham politik, tapi lewat pintu yang lebih mudah dicerna, yaitu humor. Dan caranya cukup berani ia menyentil banyak tokoh, mulai dari level Presiden hingga Wakil Presiden, dengan sindiran yang tajam tapi tetap jenaka.
Namun begitu, sentilan-sentilan itu rupanya tak diterima dengan santai oleh semua pihak. Ada yang kepanasan. Alih-alih merespons dengan karya serupa atau debat yang sehat, yang terjadi justru pengerahan massal buzzer di media sosial. Dari pengamatan sejumlah pengamat, gelombang serangan ini diduga kuat berasal dari kubu yang dekat dengan Gibran Rakabuming Raka, setelah Pandji menyebut-nyebut sang Wapres dalam materinya.
Fenomena buzzer yang ramai itu pun tak luput dari perhatian sesama komika. Arie Kriting, misalnya, menyindirnya dengan khas.
Artikel Terkait
Hellyana Diperiksa 10 Jam, Status Resmi Jadi Tersangka Ijazah Palsu
Ramalan Kematian Trump di The Simpsons Ternyata Hoaks, Produser Buka Suara
Indonesia Dukung Upaya Saudi Fasilitasi Dialog Damai di Yaman Selatan
Mengapa Kita Lebih Mudah Berharap Daripada Bersyukur?