Malam masih pekat di Cikoko, Pancoran. Suara benturan logam yang nyaring tiba-tiba memecah keheningan. Itu bukan keributan, melainkan alarm alami bagi warga sekitar. Anwar (44), petugas ronda setempat, lagi-lagi memukul tiang listrik dengan tongkatnya. Bagi yang tak tahu, mungkin ini terlihat aneh. Tapi bagi para pedagang tempe dan tahu di kawasan itu, itu adalah penanda waktu yang sangat dinanti.
“Maknanya sederhana sih,” ujar Anwar saat kami temui di pos ronda RW 5, Sabtu lalu.
“Buat nandain jam. Soalnya mayoritas sini kan pedagang. Pedagang tempe, tahu. Saya pukul biar mereka nggak kesiangan berangkat ke pasar.”
Di balik cara uniknya itu, ada misi yang jauh lebih besar. Anwar sebenarnya sedang menjaga denyut ekonomi kecil di lingkungannya. Dia ingin memastikan roda perekonomian warga, yang mengandalkan pasar pagi, tetap berputar lancar sejak dini hari.
Ritualnya punya pola tetap. Saat jarum jam menunjukkan pukul dua pagi, dua kali pukulan terdengar berdentang. Lalu, ketika pukul tiga pagi, tiga kali pukulan menyusul. “Saya muter sendirian, patroli sambil nunggu. Cuma satu orang yang ngontrol, jadi ya di jam 2 sama jam 3 itu,” ceritanya.
Artikel Terkait
KPK Bongkar Suap Pajak Rp75 Miliar, Izin Konsultan Terancam Dicabut
Gabungan TNI-Polri dan Warga Gelar Patroli di Titik Rawan Kemang
Langit 2026: Gerhana Matahari Tak Tampak, Gerhana Bulan Masih Berpeluang
Dua Pencuri Motor Tembaki Warga, Ditangkap Usai Buron ke Yogyakarta dan Cimahi