Namun begitu, tugasnya belum selesai. Masih ada pukulan lagi nanti menjelang subuh. Alasannya? Dia khawatir masih ada yang terlelap.
“Satu buat bangunin orang salat subuh. Kedua, jangan-jangan yang jam tiga tadi belum bangun juga,” katanya sambil menjelaskan.
“Bayangin aja, di sini kan banyak pabrik tempe kecil. Kalau sampai kesiangan, kan kasihan. Tempenya udah dicetak, tapi nggak sempat kejual ke pasar.”
Naluri sosialnya itulah yang membuat warga menghargai, bahkan mungkin bergantung pada, “jam weker” besi ala Anwar. Dalam kesunyian malam Jakarta, suara itu bukan sekadar bunyi. Itu adalah panggilan untuk bekerja, untuk berusaha, dan untuk memulai hari sebelum kota ini benar-benar terbangun.
Artikel Terkait
BMKG Waspadakan Hujan Lebat hingga Sangat Lebat di Jawa hingga NTT Akibat Dua Siklon
Telur Berkotoran Ayam dalam Program Makan Bergizi SD Tulungagung Picu Keluhan
Calvin Verdonk Cetak Sejarah, Jadi Pemain Indonesia Pertama ke 16 Besar Liga Europa
Sidang Maraton 12 Jam, 9 Eks Petinggi Pertamina dan Mitra Divonis 9-15 Tahun Penjara