Bau menusuk dan gunungan sampah yang kian membubung di belakang Pasar Induk Kramat Jati akhirnya memaksa Dinas Lingkungan Hidup DKI turun tangan. Mereka tak main-main, langsung mengerahkan 25 unit kendaraan bantuan untuk menyerbu lokasi. Targetnya ambisius: bersihkan semua tumpukan sampah yang bikin warga resah itu dalam waktu lima hari.
Kepala Sudin LH Jakarta Timur, Julius Monangta, membenarkan langkah tersebut. Ia bilang, bantuan ini penting agar aktivitas pasar dan kehidupan warga di sekitarnya tidak terus-terusan terganggu.
"Sebanyak 25 unit perbantuan dikerahkan untuk melakukan penanganan sampah secara intensif agar akumulasi sampah tidak mengganggu aktivitas pasar dan lingkungan sekitar," jelas Julius, Sabtu lalu.
Sebenarnya, menurutnya, penanganan sampah di pasar itu sudah berjalan rutin setiap hari. Tapi ada masa-masa tertentu yang bikin kewalahan, terutama saat musim buah tiba. Volume sampah melonjak drastis, jauh melebihi kapasitas harian yang biasa ditangani.
"Kemampuan normal kita di sana cuma sekitar 160 ton per hari," ujar Monangta. "Nah, pas musim tertentu, sampahnya bisa meledak sampai 220 ton. Ya itu, tiap hari ada 'tabungan' sampah sekitar 60 ton yang numpuk."
Nah, untuk menghabisi 'tabungan' yang menggunung itulah armada bantuan dikerahkan habis-habisan. Truk-truk sampah dipacu untuk melakukan dua kali ritasi pengangkutan setiap harinya menuju Bantargebang. Dengan cara itu, diharapkan penumpukan bisa cepat diurai.
Operasi bersih-bersih ini melibatkan puluhan personel: 23 pengemudi, dua operator alat berat, plus empat pengawas di lapangan. Mereka didukung penuh oleh 13 dump truck, 10 tronton, dan dua shovel loader yang sibuk bolak-balik memindahkan sampah.
Meski turun tangan, Monangta menegaskan soal aturan main. Berdasarkan Perda dan Pergub yang berlaku, kawasan komersial seperti pasar punya kewajiban mengelola sampahnya secara mandiri.
"Saat ini Sudin LH Jaktim melakukan perbantuan karena Pasar Induk Kramat Jati merupakan fasilitas publik yang strategis. Namun kewajiban pengelolaan sampah secara mandiri tetap harus dijalankan oleh Perumda Pasar Jaya sesuai ketentuan yang berlaku," tegasnya.
Keluhan warga sendiri sudah memuncak sejak beberapa hari sebelumnya. Bukan cuma bau yang jadi masalah. Pantauan di lokasi pada Jumat pagi menunjukkan gunungan sampah itu sudah setinggi separuh tiang lampu jalan. Parahnya, tembok pembatas antara pasar dan permukiman warga bahkan ada yang jebol. Sampah-sampah itu menggunung dan sebagian sudah berjatuhan ke arah rumah penduduk. Situasi yang jelas tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.
Artikel Terkait
Warga Tangerang Siram Air Bekas Lap Kotoran Anjing ke Jalan, Ketua RW: Konflik Sudah Berlangsung Sejak 2021
172 Jemaah Haji Khusus ESQ Tours Tiba di Tanah Air pada Gelombang Pertama Kepulangan
Repsol Gelar Touring Eksplorasi ke Situs Prasejarah Leang-Leang dan Taman Nasional Bantimurung
Rano Karno Tinjau Kebakaran Kemayoran, 679 Jiwa Terdampak dan 304 Bangunan Ludes