Menteri Kebudayaan Fadli Zon baru-baru ini menyempatkan diri meninjau langsung Benteng Marlborough di Bengkulu. Kunjungan kerja ini tak sekadar melihat kondisi cagar budaya nasional itu, tapi juga untuk mendorong pemanfaatannya yang lebih optimal. Harapannya, benteng tua ini bisa benar-benar hidup sebagai jantung edukasi, kebudayaan, dan tentu saja, destinasi wisata sejarah yang menarik.
Usai berkeliling, Fadli Zon terlihat cukup terkesan. Ia mengapresiasi upaya perawatan yang membuat benteng ini tetap terjaga. Menurutnya, nilai sejarah yang melekat padanya sungguh luar biasa. Potensinya untuk dikembangkan sebagai pusat kebudayaan yang strategis pun dinilai sangat besar bisa jadi ruang edukasi, penguat identitas, atau bahkan penggerak pariwisata budaya di wilayah itu.
“Kondisi benteng ini masih sangat terawat dan memiliki pemandangan yang sangat indah menghadap ke laut,” ujarnya.
“Dengan berbagai peristiwa sejarah penting yang dimilikinya, kawasan ini sangat potensial dimanfaatkan sebagai pusat edukasi, pusat budaya, serta ruang aktivasi untuk pameran seni rupa, seni pertunjukan, dan berbagai kegiatan kreatif lainnya,” tambah Fadli dalam keterangan tertulis, Kamis (26/2/2026).
Bengkulu sendiri, lanjutnya, punya catatan sejarah yang unik dan strategis. Wilayah ini pernah jadi pusat pemerintahan Inggris, sebelum akhirnya beralih ke tangan Belanda. Dinamika itu, termasuk peristiwa pertukaran wilayah yang melibatkan Bengkulu, Singapura, dan Melaka, adalah modal berharga. Narasi itulah yang bisa diperkuat untuk menarik minat wisatawan.
Nah, soal pengembangan pariwisata, Fadli punya pandangan. Ia mendorong agar lebih banyak lagi kegiatan dan festival budaya digelar, dengan melibatkan generasi muda tentunya. Dukungan transportasi yang kian baik, ditambah promosi yang konsisten, bisa jadi modal besar. Bengkulu berpeluang kuat menjadi destinasi unggulan wisata sejarah dan budaya di tingkat nasional.
“Tak hanya event, diperlukan juga promosi yang masif dan terukur guna mempromosikan kekayaan budaya Bengkulu. Dengan begitu, akan semakin banyak masyarakat yang datang ke sini,” tegasnya.
Lebih dari sekadar pariwisata, Fadli menegaskan satu hal penting: kebudayaan harus jadi fondasi pembangunan daerah yang berkelanjutan. Sektor budaya, dalam pandangannya, mampu menciptakan ekosistem ekonomi baru. Industri budaya yang berkembang akan membuka ruang bagi talenta-talenta kreatif lokal, mulai dari seni pertunjukan, musik, film, hingga sastra dan seni rupa.
Benteng Marlborough sendiri adalah saksi bisu kolonialisme Inggris. Dibangun antara 1714 hingga 1719 oleh East India Company di bawah pimpinan Joseph Collett, benteng yang terletak di Kota Bengkulu ini kini dikelola oleh Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya. Fungsinya pun telah berkembang; selain sebagai destinasi wisata, ia juga menjadi ruang aktif bagi berbagai aktivitas kebudayaan.
Melalui kunjungan ini, harapannya jelas: Benteng Marlborough bisa bertransformasi menjadi pusat kebudayaan yang dinamis, inklusif, dan produktif. Jika itu terwujud, benteng ini bukan hanya akan menggerakkan ekosistem budaya setempat, tapi juga memperkuat identitas daerah, mendongkrak partisipasi masyarakat, dan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif yang berbasis warisan.
Dalam kunjungan tersebut, Fadli Zon didampingi sejumlah pejabat. Di antaranya adalah Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, Staf Khusus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga Rachmanda Primayuda, serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VII Bengkulu Iskandar Mulia Siregar.
Artikel Terkait
Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan Selama Cuti Bersama Idul Adha 1447 H
Wamendesa: Kritik pada Program Pemerintah Bagian dari Demokrasi, Semua Pihak Diajak Bangun Desa
China Serukan Gencatan Senjata Komprehensif di Kawasan Teluk dalam Pertemuan PBB
Polisi Tanggamus Tangkap Lima Pemburu Rusa Sambar di Kawasan Hutan Konservasi