Rapat koordinasi di Banda Aceh pada Sabtu (10/1) kemarin mengungkap fakta yang cukup mengkhawatirkan. Meski banjir dan longsor hebat pada November 2025 lalu sudah berlalu, ternyata pemulihan di sejumlah daerah masih jauh dari kata selesai. Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Tito Karnavian, secara gamblang menyebut ada 15 kabupaten dan kota yang kondisinya belum bisa dibilang normal.
Angka itu didapat setelah timnya melakukan pengecekan ulang secara mendalam. Awalnya, pemerintah punya asumsi sendiri lewat penilaian dari pusat. Namun, Tito menegaskan mereka tak mau hanya bergantung pada itu.
“Kami ingin mendengar juga dari bawah, bottom up. Ternyata ada yang berbeda,” ujar Menteri Dalam Negeri itu dalam rapat bersama Satgas Pemulihan Pascabencana DPR RI dan sejumlah kementerian.
Dia menjelaskan, setelah rapat intensif dengan tiga gubernur serta 52 bupati dan wali kota, gambaran riil di lapangan pun muncul. Hasilnya? Ada perbedaan signifikan. Beberapa daerah yang dikira sudah baik-baik saja ternyata masih butuh perhatian, sementara yang dianggap parah justru menunjukkan kemajuan. Dari situlah angka 15 daerah itu diperoleh.
Aceh Jadi Sorotan
Dari ketiga provinsi terdampak, Aceh adalah yang paling memprihatinkan. Tito menyebut ada tujuh kabupaten di sana yang masih berjuang pulih. Kabupaten-kabupaten itu adalah Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Utara, Gayo Lues, Aceh Tamiang, Bener Meriah, dan Pidie Jaya.
“Kalau kita lihat dari pemetaan warna, Aceh itu paling banyak kuningnya,” kata Tito.
Dalam sistem pemetaan mereka, hijau berarti aman, sedangkan kuning adalah sinyal bahwa suatu wilayah masih perlu atensi dan kewaspadaan ekstra. Ketujuh kabupaten itu, berdasarkan variabel indikator pemulihan, jelas memerlukan penanganan yang lebih serius.
Kondisi di Sumut dan Sumbar
Di Sumatera Utara, situasinya sedikit lebih baik meski tetap ada lima daerah yang belum pulih sepenuhnya. Kelimanya adalah Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, dan Kota Sibolga.
Sementara itu, Sumatera Barat mencatat tiga wilayah yang masih berjuang: Tanah Datar, Padang Pariaman, dan Agam. Dari ketiganya, Agam disebut-sebut mengalami kondisi yang paling berat.
“Paling berat adalah Agam,” tegas Tito.
Strategi Penanganan Bakal Dibedakan
Berdasarkan temuan itu, Satgas kemudian mengelompokkan daerah-daerah terdampak ke dalam tiga kategori besar. Pertama, daerah yang sudah atau hampir normal. Kedua, daerah dengan kondisi setengah normal. Dan ketiga, tentu saja, daerah yang belum normal sama sekali.
Pengelompokan ini bukan tanpa alasan. Ini akan menjadi dasar bagi strategi rehabilitasi dan rekonstruksi ke depannya. Bantuan dan intervensi pemerintah akan disesuaikan dengan tingkat keparahan masing-masing wilayah.
“Yang sudah mendekati normal dipoles-poles dikit bantuannya. Kalau setengah normal, sedikit agak serius. Yang belum normal, itu paling fokus,” pungkas Tito menjelaskan logika penanganannya.
Jadi, fokus utama kini tertuju pada 15 daerah tadi. Upaya pemulihan pascabencana tampaknya masih akan berlangsung cukup panjang. Pemerintah berjanji tak akan melepas perhatian, terutama untuk wilayah-wilayah yang masih tercatat ‘kuning’ dalam peta pemulihan mereka.
Artikel Terkait
Raffi Ahmad Penuhi Amanah Terakhir Jupe, Bantu Ibunda yang Terpuruk Ekonomi
Ketua Ombudsman RI Ditahan sebagai Tersangka Kasus Korupsi Nikel
Unhas Tanggapi Laporan Pungli Terhadap Pengusaha Rental Papan Ucapan di Area Kampus
Warga Jemur Gabah di Badan Jalan Bypass Mamminasata, Lalu Lintas Tetap Ramai