Udara Palembang yang hangat kemarin sore tak menyurutkan semangat diskusi di Universitas Sriwijaya. Di hadapan ratusan mahasiswa dan akademisi, Eddy Soeparno, Wakil Ketua MPR dari PAN, menyampaikan satu pesan yang jelas: kampus harus jadi garda terdepan melawan krisis iklim. Agenda MPR Goes to Campus yang ke-42 ini memang bukan sekadar seremoni. Forum itu diharapkan jadi pemicu aksi nyata.
Menurut Eddy, ancaman perubahan iklim sudah nyata di depan mata. Bukan lagi sekadar teori atau ramalan untuk masa depan. Kita sudah merasakan sendiri cuaca yang tak menentu, ancaman terhadap hasil panen, dan goncangan di sektor ekonomi. Semua itu konsekuensi yang harus dihadapi, dan tak bisa ditunda lagi.
"Ini tantangan kebangsaan. Menyentuh ekonomi, sosial, bahkan ketahanan negara kita. Solusinya harus lahir dari kolaborasi, dari ilmu pengetahuan, dan kita semua harus bergerak dalam irama yang sama,"
Di sisi lain, posisi perguruan tinggi dinilainya sangat strategis. Sebagai doktor ilmu politik, ia melihat kampus punya peran ganda. Selain sebagai pusat riset dan inovasi, kampus juga tempat membentuk karakter generasi muda. Bayangkan, dari laboratorium-laboratorium di berbagai universitas bisa lahir terobosan energi terbarukan, model pengelolaan limbah, atau strategi ekonomi hijau. Itu semua bisa jadi pengungkit untuk percepatan pembangunan berkelanjutan.
Namun begitu, ada paradoks yang mengganjal. Eddy menyorotinya.
"Potensi energi terbarukan dan keanekaragaman hayati kita luar biasa. Tapi faktanya, kebutuhan energi masih banyak bergantung pada impor. Ini yang harus diubah,"
Artikel Terkait
BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem di Rute Mudik Jawa Saat Lebaran 2026
Shindong Super Junior Putus Kontak dengan Orang Tua, Disebut Hanya Mesin ATM
KPK Selesaikan Perhitungan Kerugian Negara Kasus Korupsi Kuota Haji
Warga Citayam Tertangkap Curi Sembako, Selesaikan Kasus dengan Ganti Rugi