Kaya Semu: Ketika Gengsi Mengalahkan Kemampuan Finansial

- Jumat, 09 Januari 2026 | 10:05 WIB
Kaya Semu: Ketika Gengsi Mengalahkan Kemampuan Finansial

Literasi yang lemah bikin utang dianggap wajar, bahkan jadi gaya hidup. Cicilan nggak dilihat sebagai beban, tapi pembuka jalan menuju citra sukses. Padahal, tanpa perencanaan matang, utang justru jadi jebakan.

Parahnya lagi, media sosial jarang kasih ruang untuk narasi keuangan yang realistis. Soal dana darurat, investasi jangka panjang, atau hidup sesuai kemampuan jarang viral. Yang rame justru cerita sukses instan dan pamer hasil.

Fenomena ini juga berkait erat dengan kebutuhan psikologis akan validasi. Di masyarakat digital, pengakuan sering datang dari angka likes dan followers, bukan dari kedalaman relasi.

Buat sebagian orang, tampil kaya jadi cara menegaskan eksistensi. Barang bermerek dan gaya hidup mewah jadi simbol status yang menggantikan pencapaian yang substantif. Ketika pengakuan dari dalam diri rapuh, simbol dari luar jadi sandaran.

Tapi validasi macam ini rapuh. Harus terus diperbarui. Sekali berhenti pamer, identitas terasa runtuh. Di titik ini, fake rich jadi beban psikologis. Hidup dijalani bukan untuk diri sendiri, tapi untuk mempertahankan citra.

Dampaknya pun meluas ke sosial. Pertama, ia mendistorsi makna sukses. Sukses direduksi jadi kepemilikan simbolik, bukan kontribusi nyata atau kemandirian ekonomi.

Kedua, ia memperlebar jurang kecemburuan sosial. Ketika banyak orang tampak hidup mewah, ketidakpuasan kolektif meningkat. Padahal yang terlihat sering cuma ilusi. Tapi ilusi yang diulang-ulang bisa membentuk persepsi publik.

Ketiga, fake rich berpotensi memperkuat budaya konsumtif dan melemahkan etos produktif. Fokusnya bergeser dari mencipta nilai ke memamerkan hasil.

Dari kacamata etika, termasuk etika keagamaan, fenomena ini patut dikritisi. Ia dekat dengan sikap berlebihan, pamer, dan ketidakjujuran pada diri sendiri. Hidup dijalani berdasarkan gengsi, bukan kebutuhan dan nilai.

Kesederhanaan, yang dulu dianggap kebajikan, kini sering dipandang sebagai kegagalan. Padahal, banyak tradisi moral menempatkan kesederhanaan sebagai fondasi ketenangan hidup.

Kritik etis ini bukan untuk menolak kemajuan atau kenikmatan. Tapi untuk mengingatkan, gaya hidup harus berakar pada realitas dan tanggung jawab, bukan ilusi dan utang.

Media massa dan negara punya peran penting. Media perlu lebih banyak menghadirkan narasi alternatif tentang sukses yang realistis dan manusiawi. Tidak semua cerita inspiratif harus glamor.

Sementara negara perlu memperkuat literasi keuangan sejak dini dan membuat regulasi yang melindungi masyarakat dari praktik kredit yang agresif. Edukasi soal utang dan perencanaan keuangan nggak boleh kalah masif dari promosi gaya hidup.

Pada akhirnya, fake rich adalah cermin zaman kita. Ia menunjukkan masyarakat yang semakin visual, kompetitif, dan haus pengakuan. Tapi fenomena ini juga membuka ruang untuk refleksi: apakah hidup yang kita jalani benar-benar milik kita, atau cuma pertunjukan untuk dilihat orang lain?

Kesadaran baru dibutuhkan. Kemapanan sejati tak selalu tampak, dan kesuksesan tak harus diumumkan. Hidup yang sehat secara finansial mungkin sunyi dari sorotan, tapi ia memberi ketenangan jangka panjang.

Di tengah hiruk-pikuk media sosial, keberanian untuk hidup sesuai kemampuan adalah bentuk perlawanan yang elegan. Menjadi "cukup" di dunia yang selalu menuntut "lebih" mungkin tidak akan viral. Tapi bisa jadi, itulah kekayaan yang paling nyata.

Mohammad Nur Rianto Al Arif.

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah dan Sekjen DPP Asosiasi Dosen Indonesia.


Halaman:

Komentar