Mezquita-Catedral Córdoba: Kisah Dua Peradaban dalam Satu Atap

- Minggu, 11 Januari 2026 | 07:00 WIB
Mezquita-Catedral Córdoba: Kisah Dua Peradaban dalam Satu Atap

Bayangkan sebuah tempat yang dulu bisa menampung 40 ribu jamaah. Itulah Masjid Agung Córdoba di masa kejayaannya. Lebih dari sekadar tempat ibadah, ia adalah jantung peradaban Islam di Andalusia. Di menaranya, konon, seorang ilmuwan muslim bernama Abbas bin Firnas pernah menguji sayap buatannya. Dia bertahan melayang sekitar sepuluh menit sebelum akhirnya jatuh. Percobaan gagal, tapi kisahnya menginspirasi banyak orang, termasuk Leonardo da Vinci berabad-abad kemudian.

Namun begitu, nasib bangunan megah ini berubah seiring waktu.

Sekarang, siapa pun yang berkunjung akan mengenalinya sebagai Mezquita-Catedral de Córdoba. Sebuah katedral yang berdiri di dalam bekas masjid raksasa. Transformasi ini terjadi pada 1236, ketika kekuasaan Islam di wilayah itu jatuh. Gereja kemudian dibangun tepat di tengah-tengah ruang salatnya, menciptakan perpaduan yang unik sekaligus menusuk hati.

Arsitekturnya? Sungguh memukau. Lebih dari 800 kolom marbe membentuk semacam hutan batu, dengan lengkungan merah-putih yang jadi ciri khasnya. Pola itu berulang-ulang, menciptakan ilusi ruang yang tak berujung. Desainnya adalah bukti nyata kemajuan Dinasti Umayyah kala itu.

Pembangunannya sendiri nggak instan. Butuh proses bertahap dari abad ke-8 hingga ke-10, dengan beberapa kali perluasan. Hasilnya, masjid ini sempat menjadi yang terbesar kedua di dunia, hanya kalah oleh Masjidil Haram di Mekah.

Di sisi lain, perubahan fungsinya jadi katedral meninggalkan bekas yang kontras. Ornamen Kristen berdampingan atau lebih tepatnya, bertumpuk dengan kaligrafi Arab dan ukiran Islam. Bagi sebagian orang, ini adalah simbol sejarah yang kompleks. Bagi yang lain, sebuah pengingat akan peralihan kekuasaan yang seringkali tak mengenakkan.


Halaman:

Komentar