Makanan Bergizi untuk Balita Viral, Cuma Dibungkus Kantong Kresek

- Minggu, 11 Januari 2026 | 06:45 WIB
Makanan Bergizi untuk Balita Viral, Cuma Dibungkus Kantong Kresek

Heboh di media sosial soal makanan bergizi gratis untuk balita dan ibu hamil di Pandeglang. Bukan karena menunya, tapi cara penyajiannya yang bikin geleng-geleng. Makanan itu dibagikan hanya dengan menggunakan kantong plastik biasa, tanpa alas apa pun. Wadah seadanya itu langsung memantik reaksi keras dari sejumlah anggota DPR.

Wakil Ketua Komisi IX DPR, Yahya Zaini, tak main-main. Dia mendesak agar pihak penyedia jasa makanan, SPPG, yang lalai harus diberi sanksi tegas.

“Pertama, saya minta BGN turun langsung mengecek kasus ini. Kedua, berikan sanksi dan teguran keras, bahkan pemberhentian sementara untuk SPPG terkait,” tegas Yahya kepada wartawan, Minggu (11/1/2026).
“Ini penting untuk efek jera. Jangan sampai terulang lagi. Soalnya ini menyangkut keamanan pangan dan standar gizi untuk kelompok rentan,” tambahnya.

Menurut Yahya, kejadian ini menguak lemahnya pengawasan Badan Gizi Nasional di lapangan. Memakai kantong plastik sembarangan, jelas dia, sangat berisiko.

“Makanan yang ditaruh di plastik seperti itu kan tidak terjamin keamanannya. Sangat membahayakan penerima manfaat, apalagi balita yang memang rentan,” katanya.

Di sisi lain, Anggota Komisi IX dari Fraksi NasDem, Irma Surya Chaniago, juga menyayangkan kelalaian ini. Dia yakin para ibu pasti akan menolak makanan yang disajikan dengan cara begitu.

“Duh, masa iya kader Posyandu nggak paham soal kebersihan dan tata boga? Makanan dicampur jadi satu dalam kresek, ya pasti ilfeel yang terima. Jijik lah!” ujar Irma.
“Lalu, sopir pengirim dari SPPG kok bisa diam saja dan tidak melaporkan cara distribusi yang salah ini?” tanyanya lagi.

Irma menegaskan, tanggung jawab SPPG tidak berhenti di pengantaran saja. Mereka harus memastikan makanan dipindah ke wadah yang sesuai SOP.

“Harusnya SPPG juga yang mendistribusikan ke wadah yang benar. Bubur dan lauk dipisah dalam kemasan makanan yang layak, bukan dicampur aduk. Fakta di lapangan menunjukkan mereka abai terhadap mekanisme ini,” jelas Irma.

Video yang beredar memang memprihatinkan. Tampak makanan berwarna kuning dan hijau di dalam kantong plastik. Suara perempuan yang merekam terdengar syok.

“Ini MBG untuk balita kayak gini, isinya ayam, nggak tahu itu bubur atau apa, kayak muntah kucing. Maaf ya, bukan nggak bersyukur, tapi masa mau dimakan pakai plastik begini?” tuturnya.

Klaim Berbeda dari Pihak Terkait

Menanggapi viralnya video, Badan Gizi Nasional (BGN) punya cerita lain. Juru Bicaranya, Redy Hendra, menyatakan bahwa dari pihak SPPG, pengiriman sudah sesuai prosedur.

“Dari SPPG sudah sesuai SOP dengan pengiriman menggunakan foodtray,” kata Redy, Minggu (11/1).

Lalu, bagaimana bisa makanan itu akhirnya ada di dalam kresek? Kepala SPPG Karyasari, Dimas Dhika Alpiyan, memberikan penjelasan. Menurutnya, kejadian itu terjadi Kamis (8/1) lalu di Kecamatan Sukaresmi. Makanan yang datang dengan wadah foodtray (ompreng) justru dipindahkan oleh seorang kader posyandu di lokasi.

“Setelah ompreng tiba, oleh ibu kader bersangkutan makanan itu dipindahkan dan disatukan di dalam kantong plastik. Alasannya spontanitas,” ujar Dimas.
“Ompreng kosong kemudian dibawa pulang sopir. Kami baru tahu keesokan harinya setelah video viral,” sambungnya.

SPPG kemudian memanggil kader yang bersangkutan untuk klarifikasi. Mereka mengakui tindakannya dilakukan secara spontan tanpa memikirkan konsekuensinya.

“Ibu kader datang Jumat (9/1) dan mengklarifikasi bahwa mereka memang memindahkan makanan ke plastik karena keadaan spontan,” pungkas Dimas.

Jadi, saling lempar tanggung jawab. Di satu sisi, SPPG menyalahkan kader di lapangan. Di sisi lain, anggota DPR menilai pengawasan dari BGN dan SPPG sendiri yang harus diperketat, agar program mulia untuk ibu dan balita tidak justru berakhir menjadi masalah.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar