Produk tembakau alternatif, yang mencakup rokok elektrik, produk tembakau yang dipanaskan, hingga kantong nikotin, dinilai sebagai opsi realistis bagi perokok dewasa yang ingin beralih dari kebiasaan merokok. Prinsip pengurangan bahaya tembakau atau tobacco harm reduction (THR) yang mendasari produk-produk tersebut telah didukung oleh sejumlah riset ilmiah. Berbagai studi menunjukkan bahwa peralihan ke produk ini berdampak positif terhadap perubahan kualitas hidup konsumen, khususnya bagi mereka yang sebelumnya merupakan perokok aktif.
Sebuah kajian ilmiah internasional yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet mengungkapkan potensi perbaikan jangka pendek pada fungsi pernapasan bagi individu yang beralih sepenuhnya dari rokok ke rokok elektrik. Studi berjudul “Functionally important respiratory symptoms and continued cigarette use versus e-cigarette switching: population assessment of tobacco and health study waves 2-6” ini melibatkan 5.653 perokok dewasa di Amerika Serikat. Hasilnya, perbaikan fungsi pernapasan terlihat pada mereka yang beralih selama 30 hari, serupa dengan kondisi individu yang berhenti merokok total.
“Temuan ini menunjukkan potensi manfaat kesehatan jangka pendek berupa perbaikan fungsi pernapasan dengan beralih sepenuhnya dari rokok ke rokok elektronik bagi para perokok dewasa,” demikian pernyataan dalam laporan tersebut. Peneliti menambahkan bahwa studi lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui dampak jangka panjang dari peralihan tersebut terhadap sistem pernapasan.
Sementara itu, riset lain yang dipublikasikan pada 2022 oleh Jonathan B. Berlowitz dan kawan-kawan menyajikan temuan terkait risiko kardiovaskular. Studi bertajuk “E-Cigarette Use and Risk of Cardiovascular Disease: A Longitudinal Analysis of the PATH Study (2013-2019)” menemukan bahwa pengguna rokok elektrik dalam jangka pendek dan menengah memiliki potensi risiko penyakit jantung dan pembuluh darah yang rendah. Risiko tersebut hampir serupa dengan kelompok non-pengguna. Jika dibandingkan dengan perokok, pengguna rokok elektrik dikaitkan dengan potensi penurunan risiko penyakit kardiovaskular sebesar 30 hingga 40 persen.
Penelitian ini merupakan bagian dari PATH Study, sebuah studi kohort representatif secara nasional yang mengumpulkan data dari 32.320 orang dewasa di Amerika Serikat antara 2013 hingga 2019. “Kami tidak menemukan perbedaan signifikan terkait risiko penyakit kardiovaskular konsumen rokok elektrik dengan non-perokok dan non-konsumen rokok elektrik,” tulis para peneliti dalam laporan mereka.
Mantan Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Profesor Tikki Pangestu, menegaskan bahwa berbagai bukti ilmiah yang telah dipublikasikan dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa penyebab utama penyakit akibat kebiasaan merokok adalah asap rokok, bukan nikotin. Menurutnya, melalui pendekatan THR, produk tembakau alternatif menghilangkan proses pembakaran sehingga penggunanya minim terpapar zat berbahaya.
“Kendati tidak sepenuhnya bebas risiko, risiko relatif dari produk bebas asap ini secara substansial lebih rendah dibandingkan risiko merokok,” tulis Prof. Tikki dalam artikelnya bersama Robert Beaglehole dan Ruth Bonita yang dimuat di jurnal Nature Health.
Sebagai informasi, nikotin tidak tergolong sebagai zat karsinogen menurut Badan Internasional untuk Penelitian Kanker atau The International Agency for Research on Cancer (IARC). Layanan Kesehatan Nasional Inggris atau The National Health Service (NHS) UK juga menyatakan bahwa nikotin tidak mengandung zat kimia beracun yang ditemukan dalam rokok, seperti tar dan tembakau. Zat kimia beracun yang terkandung dalam asap tembakau akibat pembakaran merupakan penyebab hampir seluruh bahaya dari merokok. Meskipun bersifat adiktif, nikotin sendiri tidak menyebabkan kanker, penyakit paru-paru, penyakit jantung, atau stroke, dan telah lama digunakan untuk membantu orang berhenti merokok.
Di sisi lain, sejumlah negara maju telah memaksimalkan penggunaan produk tembakau alternatif sebagai bagian dari strategi pengurangan risiko merokok. Swedia, misalnya, memiliki prevalensi dan beban penyakit terkait merokok yang termasuk paling rendah di Eropa berkat penggunaan luas produk tersebut. Jepang mencatat penurunan angka penjualan rokok sejak produk tembakau alternatif pertama kali diperkenalkan pada 2016.
Di Amerika Serikat, penurunan prevalensi merokok terjadi bersamaan dengan meningkatnya penggunaan vaping di kalangan perokok dewasa. Sementara itu, Selandia Baru berhasil menekan angka perokok, termasuk di kalangan Suku Maori, setelah pemerintah mendukung penggunaan produk tembakau alternatif sejak 2018.
“Komunikasi yang jelas dan berbasis bukti, termasuk dari WHO, bahwa sebagian besar bahaya tembakau berasal dari asap, bukan nikotin, akan membantu pengambilan keputusan yang lebih tepat oleh para perokok,” kata Prof. Tikki. Ia berharap informasi yang akurat dapat mendorong perokok dewasa untuk beralih ke produk yang lebih rendah risiko.
Artikel Terkait
PLIN Fokus Revitalisasi Aset Utama untuk Dongkrak Kinerja pada 2026
PLN Luncurkan Kampanye Green Future Powered Today, Tukar Poin Naik MRT dan Bus Listrik dengan Voucher Listrik
Libur Panjang Akhir Pekan, Ribuan Pengunjung Padati Kebun Binatang Ragunan Sejak Pagi
Kelas Menengah Atas Makin Selektif Belanja Kesehatan di Tengah Tekanan Ekonomi