Gol Kontroversial Iran Dianulir VAR, Kritik Mengalir dari Ibrahimovic hingga Henry

- Minggu, 28 Juni 2026 | 10:00 WIB
Gol Kontroversial Iran Dianulir VAR, Kritik Mengalir dari Ibrahimovic hingga Henry

Tim nasional Iran gagal memastikan tiket ke fase gugur Piala Dunia 2026 setelah hanya bermain imbang 1-1 melawan Mesir dalam laga terakhir grup, Sabtu (27/6/2026). Keputusan Video Assistant Referee (VAR) yang menganulir gol Shoja Khalilzadeh pada menit ke-93 memicu perdebatan luas, tidak hanya di kalangan pengamat sepak bola, tetapi juga dari mantan pemain dunia dan media internasional.

Iran sebenarnya dua kali membobol gawang Mesir, namun hanya satu gol yang disahkan. Gol kontroversial terjadi ketika Khalilzadeh menyambar bola muntah hasil tendangan Mohammad Ghorbani yang ditepis kiper. Wasit sempat mengesahkan gol sebelum meninjau ulang melalui VAR dan memutuskan menganulirnya karena Khalilzadeh dinilai offside saat tembakan awal dilepaskan.

Menurut analisis The New York Times, penentuan offside tidak dihitung saat Khalilzadeh mencetak gol, melainkan sejak momen Ghorbani melepaskan tendangan. Dalam hukum permainan, seorang pemain dinyatakan onside jika masih ada dua pemain lawan di antara dirinya dan garis gawang saat umpan atau tembakan pertama. Pada situasi itu, hanya satu pemain Mesir yang berada di belakang Khalilzadeh, sehingga secara teknis ia offside. Rekaman VAR menunjukkan ujung kaki Khalilzadeh beberapa sentimeter melewati garis pemain bertahan terakhir, sehingga keputusan pembatalan gol sesuai dengan Laws of the Game yang diterbitkan International Football Association Board (IFAB).

Secara regulasi, bola pantul hasil penyelamatan kiper tidak menghapus posisi offside jika pemain yang menerima bola telah lebih dulu berada dalam posisi offside saat tembakan awal dilakukan.

VAR Kembali Menjadi Sorotan Dunia

Meski penjelasan teknis telah disampaikan, keputusan itu justru memunculkan gelombang perdebatan baru mengenai penerapan VAR di level tertinggi. Mantan penyerang Swedia, Zlatan Ibrahimovic, yang menjadi analis di Fox Sports, menjadi salah satu tokoh paling vokal mengkritik keputusan tersebut.

Menurut Ibrahimovic, VAR semestinya digunakan untuk menghilangkan kesalahan nyata, bukan menciptakan kontroversi lebih besar. Ia menyatakan telah berulang kali meninjau tayangan ulang insiden itu namun tetap belum meyakini bahwa gol Khalilzadeh layak dinyatakan offside. "Keputusan yang menentukan nasib sebuah negara di Piala Dunia seharusnya hanya diambil apabila benar-benar tidak menyisakan sedikit pun keraguan," ujarnya.

Ibrahimovic juga mengingatkan bahwa kompleksitas penerapan aturan offside modern mulai menjauhkan sepak bola dari kesederhanaan yang selama puluhan tahun menjadi daya tarik utama olahraga tersebut. Ia menyebut jutaan pendukung Iran sempat merayakan gol yang mereka yakini sebagai momen bersejarah sebelum kebahagiaan itu sirna akibat keputusan VAR. "Teknologi tidak boleh dijadikan tameng untuk menghindari akuntabilitas pengadil pertandingan apabila keputusan yang dihasilkan masih memunculkan keraguan publik," tegasnya.

Henry Minta Kepastian Absolut dalam Penggunaan VAR

Pandangan serupa disampaikan mantan penyerang Prancis, Thierry Henry. Ia mengakui secara teknis keputusan wasit dapat dijelaskan melalui penerapan hukum offside modern, namun tetap prihatin terhadap dampak emosional yang harus diterima pemain dan pendukung Iran. "Pemain telah mengorbankan segalanya demi tampil di Piala Dunia, sehingga setiap keputusan VAR harus benar-benar akurat tanpa menyisakan ruang keraguan," kata Henry.

Menurut Henry, penderitaan pemain Iran tidak hanya berasal dari hilangnya satu gol, melainkan dari lenyapnya kesempatan mencatat salah satu momen terbesar dalam sejarah sepak bola nasional mereka. Ia juga mengingatkan bahwa jika kontroversi serupa dapat terjadi terhadap Iran, maka seluruh peserta Piala Dunia berpotensi mengalami nasib yang sama.

Evaluasi Teknologi Demi Menjaga Integritas Sepak Bola

Perdebatan mengenai gol Iran menambah panjang daftar kontroversi penggunaan VAR sejak teknologi itu diperkenalkan secara resmi dalam kompetisi elite FIFA. Di sisi lain, mayoritas pakar hukum sepak bola menegaskan bahwa keputusan dalam pertandingan Iran kontra Mesir tetap konsisten dengan ketentuan IFAB mengenai interpretasi posisi offside pada situasi bola pantul hasil penyelamatan kiper.

Peristiwa ini kembali menunjukkan bahwa perkembangan teknologi dalam sepak bola harus selalu diiringi transparansi, komunikasi yang mudah dipahami publik, dan evaluasi berkelanjutan. Tujuan utama VAR, yakni menghadirkan keadilan dalam pertandingan, harus tetap terjaga tanpa mengurangi esensi permainan yang sederhana, emosional, dan mampu menyatukan jutaan manusia di seluruh dunia.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags