“Bahkan, orang tua bisa memakainya untuk mendukung kursus tambahan anak, misalnya belajar bahasa asing atau mengasah bakat di bidang seni,” ujarnya. Intinya, dana itu harus disesuaikan dengan minat dan potensi si anak.
Harapannya, bantuan itu benar-benar dipakai optimal. Bukan cuma untuk bertahan di sekolah formal, tapi juga untuk mengembangkan kemampuan di luar kelas. Dengan begitu, siswa tak cuma sekadar hadir, tapi juga bisa tumbuh sesuai dengan bakat yang dimiliki.
Di sisi lain, Program Indonesia Pintar sendiri punya peran krusial. Program ini dinilai ampuh menekan angka putus sekolah, khususnya di daerah kepulauan seperti Bangka Belitung yang punya tantangan geografis tersendiri. Dukungan semacam inilah yang diharapkan bisa mempersempit kesenjangan akses pendidikan.
“Dari Bangka Belitung, untuk Indonesia yang lebih sejahtera.” Kalimat itu menjadi semangat dalam penyaluran PIP kali ini. Pesannya sederhana namun mendasar: pemerataan pendidikan adalah fondasi utama jika kita ingin membangun masa depan bangsa yang adil dan berkelanjutan.
Artikel Terkait
Nenek Pencuri Baju di Tanah Abang Akhirnya Bayar Rp 1,2 Juta Setelah Mediasi
Ara Tegaskan Huntap Korban Bencana Harus Penuhi Tiga Syarat Krusial Ini
Putra Mahkota Terakhir Iran Serukan Trump Bertindak Saat Protes Memanas
Dua Pelaku Penusukan di Kemang Diringkus di Surabaya Saat Hendak Kabur