Putra Mahkota Terakhir Iran Serukan Trump Bertindak Saat Protes Memanas

- Sabtu, 10 Januari 2026 | 16:25 WIB
Putra Mahkota Terakhir Iran Serukan Trump Bertindak Saat Protes Memanas

Reza Pahlavi, putra dari Shah Iran yang digulingkan, tak mau tinggal diam. Dari tempat tinggalnya di Washington, ia menyaksikan gelombang protes di tanah kelahirannya yang tak kunjung reda. Dan sekarang, ia mengarahkan seruannya langsung ke Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Intinya: butuh bantuan, dan butuh sekarang.

Lewat sebuah unggahan di media sosial, Pahlavi menulis dengan nada mendesak.

“Bapak Presiden, ini adalah seruan mendesak dan segera untuk perhatian, dukungan, dan tindakan Anda,” tulisnya, seperti dilaporkan AFP, Sabtu (10/1/2026).
“Mohon bersiaplah untuk turun tangan untuk membantu rakyat Iran.”

Memang, ia tak merinci bentuk intervensi seperti apa yang diinginkannya. Tapi pesannya jelas. Ia menyoroti dua hal: pemadaman internet skala nasional yang kerap terjadi, dan ancaman kekerasan terhadap para demonstran yang terus membayangi. Situasinya genting, begitu kira-kira kesan yang ingin disampaikan.

Menurutnya, seruan untuk turun ke jalan sudah dijawab rakyat. “Tadi malam mereka melakukannya,” tulis Pahlavi. Ia merasa ancaman dari pihak AS selama ini sedikit banyak telah membatasi gerak “preman rezim”. Tapi waktu terus berjalan, dan momen ini tak boleh disia-siakan.

“Rakyat akan kembali turun ke jalan dalam satu jam. Saya meminta Anda untuk membantu,” desaknya.

Di sisi lain, strategi protesnya pun tampak berubah. Bukan sekadar aksi turun ke jalan lagi. Dalam sebuah pesan video terpisah, Pahlavi mendorong warga Iran untuk lebih terarah dan ambisius.

“Tujuan kita bukan lagi hanya turun ke jalan. Tujuannya adalah bersiap untuk merebut dan menguasai pusat-pusat kota,” katanya.

Ia mendesak agar aksi dipergiat pada hari Sabtu dan Minggu. Dan yang cukup menarik, ada janji personal yang ia selipkan. Pahlavi mengaku sedang mempersiapkan diri untuk kembali ke Iran di suatu hari yang “sangat dekat”. Sebuah pernyataan yang tentu saja punya bobot simbolis yang kuat, mengingat statusnya dan sejarah keluarganya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar