BNN kembali membongkar praktik kejahatan narkoba yang makin kreatif. Kali ini, sindikat yang dibekuk ternyata punya 'dapur' lengkap untuk memproduksi happy water. Yang bikin ngeri, barang haram ini dikemas dengan sangat rapi ada yang berupa minuman berasa, ada pula yang jadi liquid vape berisi etomidate. Harganya? Fantastis. Untuk satu unitnya, pelaku berani menjual antara dua hingga enam juta rupiah.
Plt Deputi Pemberantasan BNN, Budi Wibowo, membeberkan detailnya saat jumpa pers di sebuah apartemen di Ancol, Jakarta Utara, Selasa lalu.
"Jaringan ini pakai modus penyamaran berlapis," ujar Budi.
Selain mencampurkan narkoba ke dalam liquid vape, kata dia, bahan baku seperti etomidate sengaja dibungkus mirip sachet minuman energi. Tampilannya persis produk legal biasa. "Ini jelas untuk mengelabui petugas," tambahnya.
Menurut sejumlah saksi, cara seperti ini juga mempermudah penyelundupan lintas negara. Barang-barang itu kemudian mengalir ke sejumlah tempat hiburan malam di ibu kota.
Sasarannya jelas: kalangan muda dan para pengguna vape.
"Ada rentang klaster kelompok tertentu yang jadi target, utamanya ya penikmat vape," ungkap Budi.
Dia melanjutkan dengan nada prihatin, "Dari hasil survei, makin banyak anak muda kita yang terjebak. Mereka menganggap vaping sebagai tren, sebagai alternatif dari rokok konvensional. Tanpa sadar, mereka terpapar zat adiktif berbahaya ini."
Soal jumlah barang yang beredar dan keuntungan pelaku, Budi enggan merinci lebih jauh. Namun begitu, dia mengonfirmasi kisaran harga jualnya.
"Menurut pengakuan tersangka, harganya antara Rp 2 juta sampai Rp 6 juta per sachet happy water atau cartridge. Tergantung kandungan zat berbahaya di dalamnya," jelasnya.
Operasi ini sekali lagi membuka mata. Tampaknya, perang melawan narkoba kini tak cenderung soal mengejar pengedar di jalanan, tetapi juga membongkar jaringan yang beroperasi dengan kedok produk sehari-hari yang tampak biasa saja.
Artikel Terkait
Helikopter Penyelamat Jatuh di Peru, 15 Orang Tewas
Dokter Tirta Ingatkan Minum Kopi Saat Sahur Berisiko Dehidrasi
Saan Mustopa Padukan Bagi-bagi Sembako dengan Konsolidasi Data Jelang 2029
Gibran Ingatkan Pemerataan Guru Jadi Fondasi Transformasi Digital