Di sisi lain, operasi pencarian korban hilang terus berjalan. Bahkan sudah memasuki hari ke-19. Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, mengakui ini melebihi standar prosedur biasa yang biasanya satu minggu. Tapi keinginan keluarga korban menjadi alasan utama.
"Kalau seperti di Mandailing Natal, Humbang Hasundutan sudah declare menghentikan pencarian karena keluarga sudah ikhlas," kata Suharyanto saat dihubungi.
"Tapi, karena keluarga masih belum merelakan, kita terus mencari sampai sekarang."
Medan yang luas dan terjal disebutnya sebagai kendala besar. Tapi tim gabungan BNPB dan Basarnas tak menyerah. Mereka menyisir setiap jengkal, sambil memperbaiki jalur transportasi dan sungai yang rusak. "Iya, dicari, disisir," imbuhnya.
Korban Meninggal Tembus 1.053 Jiwa
Data korban pun terus diperbarui. Hingga Selasa kemarin, angka korban meninggal akibat banjir bandang dan longsor di tiga provinsi itu telah mencapai 1.053 orang. Hanya dalam sehari, ditemukan 23 jenazah tambahan 18 di Aceh (Aceh Tamiang dan Aceh Utara) dan 5 di Tapanuli Tengah.
Sayangnya, daftar orang hilang masih panjang: 200 orang. Mereka tersebar di beberapa titik rawan. Di Tapanuli Tengah, 45 orang masih dicari. Agam, Sumatera Barat, melaporkan 55 warganya hilang. Sementara di Aceh, kabupaten seperti Bener Meriah dan Aceh Utara masih mencatat puluhan nama yang belum ditemukan.
Jumlah pengungsi juga luar biasa: lebih dari 606 ribu orang.
Proses pemulihan jelas masih sangat panjang. Sementara upaya pencarian, bagi banyak keluarga, adalah satu-satunya harapan yang tersisa.
Artikel Terkait
Di Balik Retorika Panas, Iran dan AS Diam-diam Lanjutkan Negosiasi
Polda Metro Jaya Cegah Indah Megahwati ke Luar Negeri Terkait Kasus Korupsi Kementan
Pekerja Migran Indonesia Tewas di Kapal Korea, Pemerintah Janji Kawal Hak Keluarga
Jembatan Tua Ambruk, Empat Desa di Pandeglang Terisolasi