Smara Bhumi: Tiga Puluh Satu Perupa Rayakan Cinta yang Membumi Lewat Cat Air

- Minggu, 01 Februari 2026 | 06:00 WIB
Smara Bhumi: Tiga Puluh Satu Perupa Rayakan Cinta yang Membumi Lewat Cat Air

Balai Budaya Jakarta akan ramai sepanjang pekan pertama Februari 2026. Pasalnya, komunitas Agus Budiyanto Aquarelle Studio (ABAS) menggelar pameran bertajuk "Smara Bhumi". Acara yang rencananya dibuka oleh kolektor Sihaan Farnandes ini menampilkan karya cat air dari tiga puluh satu perupa. Mereka datang dengan beragam tafsir, namun satu semangat yang sama.

Menurut Agus Budiyanto, ketua komunitas ABAS, Smara Bhumi itu sendiri adalah frasa puitis. Ia bicara soal pertemuan beragam ekspresi personal yang akhirnya menyatu dalam kebersamaan yang membumi.

"Sebagai pelukis dan ketua komunitas ABAS, saya selalu memberikan pernyataan bahwa seni adalah menyoal rasa dan kebersamaan. Melukis sejatinya bukan merekam apa yang kita lihat tapi menuangkan yang dirasakan. Smara Bhumi diartikan bebas sebagai menangkap bunyi tidak dengan telinga tapi lebih kepada rasa."

Di sisi lain, pengamat seni Bambang Asrini memberi catatan menarik dalam katalog pameran. Frasa lengkapnya, katanya, sebenarnya Smara Bhumi Adimanggala. "Smara" berarti cinta, sementara "Bhumi" adalah tanah sesuatu yang rendah hati dan membumi. Pertemuan keduanya menciptakan keindahan.

"Frasa tambahan ini acapkali dirujuk untuk semangat membangun sosok pemimpin bagi diri sendiri, yang memberikan kasih nan Agung Adimanggala– serta mengayomi sang liyan yang berarti perayaan seni, yang dimaknai sebagai ketulusan para seniman untuk mendekat pada alam, sesuatu yang secara kodrati ada dalam diri tiap manusia."

Konsep filosofis itu lalu diterjemahkan ke dalam kanvas dengan cara yang beraneka rupa. Agus Budiyanto sendiri menghadirkan karya berjudul 'Infinity'. Tiga panel kanvas berukuran 110 x 200 cm itu menyatu lewat dialog warna, garis, dan cipratan cat air yang mempesona.

Lain lagi dengan Dumasi Marisina Magdalena Samosir. Baginya, melukis dengan topik Smara Bhumi ibarat memanjatkan doa, sebuah ungkapan syukur. Karyanya yang berjudul 'Riding the Unseen Currents' (56 x 142 cm) mengajak penikmat seni untuk merasakan keheningan dan misteri lautan dalam jiwa seorang pelukis.

"Saya memahami seni dengan topik yang semata seperti memanjatkan doa. Ungkapan rasa syukur; lautan adalah ruang menemukan damai batin."

Ada juga Erika Enda Ginting dengan lukisan mungil 'Owlish Presence' (38 x 56 cm). Ia mengaku menekankan keseimbangan antara kendali dan ketidakterdugaan dalam teknik cat air.

"Saya menekankan keseimbangan antara kendali dan ketidakterdugaan selain membiarkan medium berbicara melalui aliran, waktu, dan kebetulan-kebetulan dengan teknik cat air kering dan basah."

Bagi Syiska Diranti Ventia, melukis dengan cat air adalah pengalaman yang adiktif sekaligus menenangkan. Karyanya, 'Whisper in Bloom' (75 x 56 cm), adalah upayanya berbicara lewat warna dan bentuk saat kata-kata tak terucap.

Pameran ini juga diramaikan oleh nama-nama senior. Umi Haksami, mantan Ketua IWS, memamerkan satu karya berjudul 'Light of The Day' (110 x 80 cm). Karya itu seperti berceloteh tentang cahaya di penghujung hari, seolah menyongsong tahun baru 2026 dengan semangat.

Yulian Sodri hadir dengan 'Never Look Away' (76 x 56 cm). Setiap kali melukis lansekap alam, ia merasa seolah sedang berada di dalam lukisannya sendiri sebuah perasaan yang mendatangkan kedamaian.

Menariknya, ada pula partisipan dari dunia lain. Vera Eve Lim, seorang bankir yang bertransformasi jadi pelukis, menampilkan karya 'Unstoppable' (112 x 76 cm). Ia mengaku belajar banyak dari karakter cat air dan mentornya, Agus Budiyanto.

"Saya melakoni ‘menyelam dalam-dalam, meraup cukup feeling menuangkan apa dan bagaimana karakter cat’ serta tak lupa: mengaduk emosi tentang jedah ruang, minimalisir sabetan, ritme goresan tertentu pada kertas yang membentuk apa yang disebut harmoni."

Selain nama-nama yang disebut, masih banyak perupa lain yang terlibat: Chesna Anwar, Niken Vijayanti, Diit Maya Paksi, dan puluhan lainnya. Inilah kekuatan pameran bersama semacam ini. Di satu sisi, kita melihat keberbedaan karakter yang sangat personal dari tiap pelukis. Namun di saat yang sama, mereka justru membangun pesona lewat saling dukung dalam satu kebersamaan.

Smara Bhumi, yang diambil dari filosofi Jawa kuno, diharapkan bisa menjadi gerbang indah untuk menyambut 2026. Sebuah tahun baru untuk berbagi semangat, merayakan kebhinekaan, dan terus membuat seni yang membumi.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler