Di sebuah retret yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia di Bogor, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengungkapkan rencana besar pemerintahan baru. Presiden Prabowo Subianto, katanya, berniat mengganti jajaran direksi bank-bank milik negara yang tergabung dalam Himbara. Alasannya? Karena dinilai merugikan negara.
Menurut Sjafrie, Prabowo geram dengan praktik ketimpangan yang terjadi. "Bank Himbara itu lebih (mementingkan) ke pengusaha besar untuk dikasih kredit daripada pengusaha kecil," ujarnya.
Ia kemudian menegaskan, "Oleh karena itu, Presiden akan memutuskan ganti semua direksi Bank Himbara. Sudah ada tata kelola baru untuk menertibkan BUMN."
Rupanya, langkah ini bukan sekadar pergantian biasa. Ini bagian dari pembersihan besar-besaran di tubuh BUMN. Pemerintah tampaknya sudah muak dengan figur-figur lama yang sudah terlalu lama bercokol. Kata Sjafrie, mereka tak akan diandalkan lagi.
Lalu siapa yang dicari? Fokusnya sekarang adalah pada sosok dengan integritas dan nasionalisme tinggi. "Kita ganti dengan mereka yang mempunyai kemampuan intelektual, kemampuan praktisi tapi dia cinta tanah air," jelas Sjafrie.
Di sisi lain, ada semangat untuk menyegarkan kepemimpinan. Prabowo dikabarkan sedang memburu talenta-talenta muda yang mumpuni. Mereka yang dianggap militan, kapabel, dan kredibel akan diberi tanggung jawab besar.
“Pemerintah mencari generasi generasi muda yang militan, kapabel, dan kredibel untuk kita beri tugas dan tanggung jawab untuk mengendalikan perahu perjuangan ekonomi kita,” tegas Sjafrie.
Jadi, ini bukan cuma soal bank. Ini soal perubahan arah. Sebuah sinyal kuat bahwa pemerintahan baru ini ingin membawa wajah baru dan cara kerja yang berbeda, khususnya dalam mengelola ekonomi negara.
Artikel Terkait
Menaker Terbitkan Aturan Baru, Hanya Enam Bidang Pekerjaan yang Boleh Gunakan Sistem Outsourcing
Kementerian Perdagangan Siap Sesuaikan HET Minyakita, Harga di Pasaran Tembus Rp19.000 per Liter
Penataan Jalan HR Rasuna Said Dikebut, Ditargetkan Rampung Sebelum HUT Jakarta 2026
Konflik Timur Tengah Ancam Investasi Raksasa AI Senilai Rp10.800 Triliun