Di balik program Jogja Zero Gepeng, ada sekelompok relawan yang jadi ujung tombak. Mereka bukan petugas yang datang dengan sirene dan wewenang penertiban. Tugasnya justru lebih halus: mendekati, mengobrol, dan membujuk. Inilah Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Kota Yogyakarta, yang berperan sebagai motivator sekaligus jembatan informasi antara pemerintah dan mereka yang hidup di jalanan.
Bendahara 2 PSM, Dwi Puji Lestari, menekankan bahwa pendekatan mereka sepenuhnya humanis. "Humanis iya. Itu yang dilakukan oleh PSM. Nggih," ujarnya kepada Pandangan Jogja, Kamis lalu (4/12).
"Jadi tidak menertibkan tapi melakukan pendekatan secara humanis," tegas Dwi.
Intinya, PSM tidak punya kuasa untuk mengevakuasi atau menertibkan. Peran mereka muncul terutama saat ada operasi penertiban oleh Satpol PP. "Kalau kita nanti akan melakukan penertiban kita membantu itu Satpol PP. Karena kita juga sering diikutsertakan oleh Satpol PP," jelasnya. Mereka hadir untuk melunakkan situasi, menjadi wajah yang lebih bersahabat di tengah prosedur yang bisa saja terasa menakutkan.
Memotivasi untuk Tidak di Kota Jogja
Lantas, apa sebenarnya misi utama para relawan ini? Dwi menjelaskan dengan gamblang. Sejak awal dibentuk, tujuan mereka adalah memotivasi para gepeng, anak jalanan, dan gelandangan untuk tidak menjadikan Yogyakarta sebagai tempat tinggal.
"Peran utamanya nuwun sewu. Kalau kami dari awal itu dibentuk kan istilahnya untuk memotivasi kalau kita ketemu gepeng, ketemu anak jalanan, ketemu gelandangan dan itu memotivasi untuk tidak di Kota Jogja," ujar Dwi.
"Njih, karena Kota Jogja itu bukan untuk tempat gelandangan dan lain-lain. Kami motivasi kalau memang bisa tidak menetap di Kota Jogja dan tidak tidur di sembarang tempat."
Untuk menjangkau seluruh sudut kota, PSM bekerja dalam tiga tim wilayah: Utara, Tengah, dan Selatan. Tugas mereka bukan evakuasi fisik, melainkan menjangkau, mengidentifikasi, dan melaporkan ke Dinas Sosial. Urusan evakuasi tetap jadi ranah Satpol PP.
Bukan Penduduk Kota
Namun begitu, tantangan di lapangan tidak kecil. Salah satu akar masalahnya, menurut Dwi, adalah daya tarik Yogyakarta itu sendiri. Kota ini dianggap terlalu nyaman, terutama pasca-Covid, sehingga menarik banyak orang dari luar.
"Memang Jogja itu terlalu nyaman bagi mereka," katanya. "Kalau kita ketemu Gepeng kita juga bisa istilahnya memberi motivasi itu yo yo ora neng kene ini bukan tempatnya."
Fakta yang muncul justru ironis. Data terakhir menunjukkan mayoritas gepeng di Yogyakarta bukanlah warga asli. Mereka datang dari Klaten, Kulon Progo, Bantul, bahkan dari Purworejo hingga Lampung. Alasan mereka turun ke jalan pun beragam.
"Kalau saya melihat ada dua ya, Mbak. Ada tiga kalau nggak salah," ucap Dwi. "Ya mental, ekonomi juga ikut-ikutan. terutama anak-anak pang. Jadi diajak terus."
Ia juga menyoroti fenomena anak muda dari keluarga mampu yang mencari jati diri di jalanan. "Anak orang mampu. Akhirnya dimotivasi. Tapi mereka Ya seperti itulah. Hanya ingin mencari dari jati diri saja."
Di sisi lain, penanganan gepeng dari luar kota ini menghadapi kendala mendasar: anggaran. Dwi menutup pembicaraan dengan nada realistis. APBD kota, menurutnya, diperuntukkan bagi warga Kota Yogyakarta.
"Sebetulnya kalau memang sudah tidak diurus mungkin ya, katakanlah tidak diurus karena mereka bukan penduduk kota. Kalau penduduk kota mungkin oleh pemerintah kota langsung diurusin sampai selesai gitu. Kalau bukan penduduk kota lagi kita mau bagaimana? Sementara dana kan untuk penduduk kota."
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu