BEI Buka Data Kepemilikan Saham di Bawah 5% untuk Tarik Investor Global

- Minggu, 01 Februari 2026 | 20:15 WIB
BEI Buka Data Kepemilikan Saham di Bawah 5% untuk Tarik Investor Global

Transisi kepemimpinan di Bursa Efek Indonesia (BEI) rupanya tak mengganggu langkah strategisnya. Menurut Direktur BEI, Jeffrey Hendrik, semua operasional berjalan normal. Baik sistem perdagangan, pelayanan, hingga proses pengambilan keputusan, semuanya berjalan seperti biasa tanpa ada kendala teknis atau administratif yang berarti.

“Operasional Bursa Efek Indonesia, baik kesiapan sistem perdagangan, pelayanan kepada seluruh stakeholders maupun proses pengambilan keputusan berjalan secara normal tanpa ada gangguan apapun,” tegas Jeffrey dalam Dialog Bersama Pelaku Pasar Modal, Minggu (1/2/2026).

Nah, di tengah kondisi yang stabil itu, BEI justru sedang menyiapkan gebrakan. Fokusnya satu: mendalami pasar atau market deepening untuk menarik lebih banyak investor global. Caranya? Meningkatkan transparansi.

Kalau selama ini kita cuma bisa lacak pemegang saham di atas 5%, situasinya akan berubah. Awal Februari 2026 nanti, BEI berencana membuka data kepemilikan di bawah ambang batas itu juga. Pengungkapannya akan dibuat lebih umum.

“Kami akan meningkatkan lagi disclosure data kepemilikan saham secara lebih general. Termasuk untuk data kepemilikan saham atau shareholders name di bawah 5 persen sehingga akan setara dengan bursa-bursa global lainnya. Kami akan melaksanakan ini di awal Februari 2026 ini,” jelas Jeffrey.

Langkah ini bukan tanpa alasan. Tujuannya jelas, untuk memenuhi harapan lembaga indeks besar macam MSCI dan FTSE. Dengan struktur kepemilikan yang terlihat utuh, gambaran tentang emiten di Indonesia bakal lebih jelas di mata dunia.

Tak cuma soal nama, klasifikasi tipenya juga bakal dirombak. Selama ini, identitas investor di kita cuma dikelompokkan dalam 9 kategori Single Investor Identification (SID). Sistem yang menurut banyak pihak sudah ketinggalan zaman.

Makanya, BEI bersama KSEI bakal merincinya lebih detail. Kategorinya akan mengikuti praktik terbaik global, jadi lebih granular. Nantinya, akan ada kategori khusus untuk Sovereign Wealth Fund (SWF), Private Equity (PE), Investment Advisor, sampai Discretionary Fund.

“Kami harapkan proses ini akan dapat diselesaikan paling lambat April 2026 sebelum timeline yang ditetapkan oleh MSCI,” tambahnya.

Prosesnya tentu tidak instan. Untuk memastikan semuanya berjalan mulus, sosialisasi ke perusahaan efek, bank kustodian, dan pemangku kepentingan lain akan segera dimulai minggu ini. Remapping data investor ini dianggap krusial. Ia akan memberikan kejelasan atas setiap transaksi yang terjadi, menghilangkan kabut keraguan.

Pada akhirnya, semua langkah strategis ini diharapkan jadi semacam penawar bagi kekhawatiran investor asing. Isinya adalah kepastian: bahwa iklim investasi di pasar modal Indonesia kini lebih terbuka, lebih akuntabel, dan siap bersaing di tingkat global.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler