Cumlaude Jadi Ibu Rumah Tangga, Kampus Malah Minta Postingan Dihapus

- Minggu, 01 Februari 2026 | 06:40 WIB
Cumlaude Jadi Ibu Rumah Tangga, Kampus Malah Minta Postingan Dihapus

Hebat juga ya, seorang konten kreator lulusan cumlaude tiba-tiba diminta menghapus postingannya. Isinya sih cuma tanya, "Cumlaudee tapi jadi IRT (Ibu Rumah Tangga) gapapa kan?" Tapi rupanya, ada yang keberatan. Konon, dia disuruh take down karena memakai identitas almamater. Alasannya, postingan itu dikhawatirkan berdampak buruk buat nama kampus.

Saya sendiri sempat melihat postingan itu. Menurut saya, sih, biasa aja. Nggak ada yang provokatif.

Kalau saya yang jadi pejabat kampusnya, reaksinya mungkin bakal beda. Mungkin saya malah bakal kirim pesan pribadi ke dia.

"Mbak, terima kasih ya. Terima kasih sudah menunjukkan kepada publik bahwa ilmu tidak berhenti di ruang sidang skripsi, dan almamater tidak selesai begitu telah foto wisuda. Terimakasih lho sudah mengedukasi bahwa puncak karir tertinggi perempuan itu justru menjadi seorang Ibu Rumahtangga yang baik dan benar. Tentu akan lahir generasi emas 2045 jika yang mendidiknya di rumah adalah seorang perempuan well educated. Cumlaudee pula. We are proud of you!"

Nah, lihat kan? Ini soal perspektif. Cara kita memandang makna karier dan keberhasilan.

Ada kesan aneh, seolah-olah ketika seorang perempuan memilih pulang ke rumah, lalu fokus mendidik anak-anaknya dengan ilmu dan adab, dia malah dianggap 'menurunkan martabat' kampus yang dulu membesarkannya. Padahal, justru di situlah ilmu yang didapat diuji dalam kenyataan. Di sanalah teori bertemu praktik kehidupan yang sesungguhnya.

Kita kerap lupa. Puncak karier bukan melulu soal jabatan atau titel mentereng, tapi pengaruh. Dan pengaruh paling abadi dalam sejarah peradaban, ya pengaruh seorang ibu terhadap generasi berikutnya.

Bayangkan sebuah rumah yang diasuh oleh perempuan berpendidikan tinggi. Itu bukan rumah biasa. Itu adalah madrasah pertama, fondasi karakter bangsa yang sebenarnya.

Generasi Emas 2045 nggak akan lahir dari seminar atau slogan-slogan kosong. Ia lahir dari dapur yang hangat, dari obrolan sederhana antara ibu dan anak, dari teladan akhlak yang ditunjukkan setiap hari. Semua itu butuh perempuan yang berilmu, matang secara psikologis, dan sadar akan perannya. Bukan sekadar perempuan yang sibuk terlihat sukses di luar.

Ini bukan berarti karir di luar rumah itu nggak penting. Tapi, perempuan harus punya kesadaran untuk menata prioritas. Urutannya bisa begini: Istri dulu, lalu Ibu, baru peran sosial atau publik. Kalau peran ketiga itu malah mengganggu dua peran utama ya sudah, wajar banget kalau didahulukan yang lebih prioritas.

Almamaternya harusnya bangga, lho. Justru di sini ilmu yang diajarkan kampus itu hidup dan bernafas. Gelar mungkin disimpan rapi, tapi peran sebagai IRT yang dipilih dengan sadar itu justru sedang menumbuhkan peradaban baru. Dari dalam rumah.

(Rahmatul Husni)

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler